Matematika Ramadhan

By : Nurhamzah CS

Allah swt. memilih salah satu bulan dari duabelas bulan hijriyah sebagai sebuah bulan yang memiliki keutamaan dibanding dengan bulan-bulan lainnya yang sebelas, sehingga bulan ramadhan disebut bulan suci bahkan sayyidu syuhur (sayyidnya dari beberapa bulan), yakni bulan penuh hikmah, bulan yang dimuliakan Allah swt, karena di bulan Ramadhan ini Allah swt. melimpahkan rahmat (kasih sayang) dan maghfirah (ampunan) Nya kepada umat manusia dan itqu min an-nar (terhindar dari api neraka). Al-Qur’an (kitab suci agama Islam) pertama kali diturunkan pada bulan Ramadhan. Pada bulan ini juga umat Islam di seluruh dunia melaksanakan ibadah puasa. Puasa di bulan Ramadhan merupakan perintah Allah swt. yang wajib dilaksanakan oleh setiap mukmin, Allah swt. berfirman dalam Qur’an surat al-Baqarah ayat 183, yang artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Dengan tidak mengurangi rasa hormat para pembaca, tulisan ini  tidak akan membahas mengenai definisi puasa serta syarat dan rukunnya,  tetapi yang akan dibahas disini adalah hubungan antara matematika dengan ibadah di bulan Ramadhan atau disebut matematika ramadhan, yakni berbagai fenomena yang ada di bulan ramadhan dan dapat dihitung secara matematis, walaupun esensi dari hitungan tersebut lebih untuk memotivasi kaum muslimin dan mukminin dalam menjalankan ibadah kepada Allah swt. menjadi lebih baik dan lebih giat.

Dalam matematika terdapat materi yang disebut dengan opersi bilangan, yakni penjumlahan atau penambahan ( + ), pegurangan ( – ), perkalian ( x ), pembagian ( , kelipatan, dan sama dengan ( = ).

Penambahan (Penjumlahan). Bulan Ramadhan adalah bulan dimana Allah menambahkan beberapa keutamaan dibandingkan dengan bulan yang lain. Karena itu hendaknya kita  juga menambah berbagai amal sholeh selama bulan suci Ramadhan. Ramadhan seharusnya menjadi wasilah tarbiyah bagi bertambahnya kesabaran, kekhusukan, keimanan, ketaqwaan, keikhlasan, kesungguhan dan kepedulian.

Pengurangan. Bulan Ramadhan adalah bulan dimana Allah swt. berjanji akan mengurangi dan bahkan menghilangkan dosa-dosa bagi seorang muslim yang berpusa karena landasan keimanan dan ketaqwaan. Bahkan, Allah menjanjikan seorang mukmin yang berpuasa akan bersih kembali seperti seorang bayi yang tak berdoa. Karena itu selama Ramadhan tingkatkan kemauan dan kemampuan untuk mengurangi dan meninggalkan segala perbuatan maksiat dan dosa. Jika yang halal saja bisa ditinggalkan, apalagi yang haram.

Pengalian. Keistimewaan Ramadhan lainnya adalah bahwa Allah mengalikan derajat ibadah lebih tinggi dari kedudukan semula. Ibadah sunnah dikalikan oleh Allah derajatnya menjadi bernilai sebagai ibadah wajib. Ini adalah bentuk karunia Allah kepada hamba-hambanya yang taat. Oleh karena itu sudah semestinya kita mengalikan berbagai bentuk ibadah dan amal sholeh selama bulan Ramadhan ini, baik yang sunnah maupun yang wajib.

Pembagian. Ibadah puasa bulan Ramadhan berdimensi vertikal, yakni hubungan hamba dengan Allah swt. langsung. Sebab puasa hanya diketahui oleh orang bersangkutan dan Allah swt. saja. Karena itu Allah pula yang langsung akan memberikan dan membagikan pahala puasa, inilah istimewanya ibadah puasa. Karena itu sebagai rasa syukur, maka teruslah berbagai kebaikan dari tangan kita sendiri kepada saudara sesama muslim maupun seluruh manusia. Membagi kebaikan tidak hanya sebatas materi, namun juga ilmu, tenaga dan rasa.

Kelipatan. Allah telah berjanji akan melipatgandakan pahala bagi hamba-hamba-Nya yang ikhlas berpuasa dan beribadah karena Allah. saat kaum muslimin membaca Alquran di bulan suci Ramadhan. Jika kaum muslimin membaca satu juz Alquran kira-kira berjumlah 7000 huruf, kalikan satu huruf dengan 10 kebaikan dikalikan pahala 70 kewajiban maka akan menghasilkan  4.900.000 kebaikan. Jika satu kali saja Alquran dikhatamkan selama bulan Ramadhan, maka akan didapat 147 juta kebaikan. Jika tiga kali akan didapatkan 441 juta kebaikan.

Sama dengan. Jika keimanan ditambah puasa maka hasilnya sama dengan ampunan Allah atas semua dosa. Jika keikhlasan ditambah puasa maka sama dengan derajat ketaqwaan. Semoga puasa tahun ini menjadikan kita sebagai manusia bertaqwa, keluarga bertaqwa, pemimpin bertaqwa dan negara bertaqwa. Negara bertaqwa yaitu negera yang menerapkan Islam kaffah hingga mendatangkan keberkahan dari langit dan bumi serta menebarkan rahmat bagi alam semesta.

Selain pemaknaan operasi bilangan dengan keutamaan amaliah di bulan ramadhan, berikut beberapa fenomena terkait dengan bulan ramadhan yang dapat dimatematisasikan, sebgai bukti dari makna operasi bilangan tersebut.

Bulan ramadhan adalah bulan ke sembilan dari dua belas bulan yang lainnya. Artinya angka semilan adalah angka terbesar dari derat bilangan yang dikenal saat ini 0,1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9. Bilangan-bilangan tersebut untuk membentuk bilangan berikutnya terdiri dari bilangan-bilangan tersebut atau membentuk siklus dan jika sampai kepada angka sembilan maka akan kembali ke bilangan nol. Bila dikaitkan dengan bulan ramadhan dapat dimaknai bahwa bulan ramadhan adalah bulan yang memiliki derajat tertinggi diantara bulan-bulan lainnya dan disebut sebagai sayyidussuhur, setelah melewati bulan ke-9 maka akan kembali lagi pada titik 0 (nol). Artinya  setelah sebelas bulan lamanya umat islam sibuk dengan urusan duniawinya, maka bulan Ramadhan adalah bulan penggemblengan mental dan penyucian diri dari   segala salah dan dosa sehingga setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh harapannya umat islam kembali kepada kesucian (iedil fitri), kembali pada posisi 0 (nol).

Ibadah di bulan Ramadhan dibagi dalam tiga sesi yaitu pada sepertiga bulan pertama Allah menurunkan Rahmat-Nya, sepertiga kedua Allah menurunkan ampunan-Nya, dan sepertiga terahir Allah mengabulkan semua doa hamba-hamba Nya. Pada sepertiga terahir Ramadhan Allah juga menurunkan  lailatul qodar. Lailatul qodar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Secara matematis satu malam lailatul qodar setara dengan 83 tahun, 4 bulan. Perhitungan matematisnya adalah: dalam satu tahun ada 12 bulan, satu malam laelatul qodar setara dengan 1000 bulan, maka diperoleh dan 1000 : 12 = 83,3333333 mendekati 84 tahun. Jadi  nilai ibadah satu malam saja saat lailatul qodar setara nilainya dengan ibadah selama 84 tahun. Subhanallah.

Ciri khas bulan puasa adalah sholat tarawih. Ibarat sebuah kendaraan, tarawih di Indonesia itu macam-macam, ada yang 20 rakaat ada juga yagn 8 rakaat, namun setiap orang akan menentukan pilihannya masing-masing, sesuai dengan selera dan keyakinannya,yang penting tetap menjalankan sholat. Secara matematis, misalnya, orang yang  melaksankan tarawih 20 rakaat plus 3 witir. Perinciaanya, Jika setiap malam melaksanakan tarawih yang 20 rakaat, maka dalam sebulan telah melaksanakan sebanyak 600 rakaat. Jika ditambah witir 3 rakaat, maka sebulan penuh berarti melaksanakan 690 rakaat setiap malam. Belum lagi ditambah tahajud, 12 rakaat, sehingga totalnya 990 dengan perincian sebagai berikut:

Shalat tarawih             : 20 rakaat  x 30 hari  = 600 rakaat;

Witir                              : 3 rakaat x 30 hari      =   90 rakaat;

Tahajud                         : 12 rakaat  x 30 hari   = 360 rakaat; 

Jumlah rakaat dalam 30 hari                            = 990 rakaat.

Sebuah pencapain yang fantastis, yang tidak pernah dilakukan, kecuali pada bulan suci Ramadhan.

Demikian juga bagi mereka yang melaksanakan shalat tarawih 8 rakaat dengan witir 3 rakaat ditambah tahajud 12 rakaat, maka jumlah rakaatnya dalam sebulan adalah:

Shalat tarawih             : 8 rakaat  x 30 hari     = 240 rakaat

Witir                            : 3 rakaat x 30 hari      =   90 rakaat

Tahajud                       : 12 rakaat  x 30 hari   = 360 rakaat

Jumlah rakaat dalam 30 hari                           = 690 rakaat

Sekali lagi, tidak ada sholat yang dilakukan dengan jumlah rakaat melebih jumlah rakaat pada bulan suci Ramadhan.

Jika masing-masing menanbahi dengan dhuha setiap pagi dengan 4 rakaat selama sebulan maka hasilnya menjadi lebih fantastis. Wajarlah jika kemudian Rosulullah SAW mengatakan “barangsiapa yang melaksankan qiyam Ramadhan atas dasar iman dan semata-mata karena-Nya, maka Allah SWT mengampuni dosa-dosa yang lampau (HR Muslim).

Tadarus al-Quran juga dijanjikan oleh Allah pahala yang berlipatganda. Pahala yang dijanjikan Allah adalah pahala satu huruf al-quran adlah 10 pahala, sedangkana jumlah huruf di dalam Al-Quran itu mencapai  sebanyak 1.027.000 (satu juta dua puluh tujuh ribu). Maka pahala yang akan diperoleh bila satu kali khatam adalah 1.027.000×10=10.270.000 juta pahala yang diperoleh. Selannjutnya tinggal dihitunga bila dalam sebulan sampai khatam dua kali atau tiga kali.  Rosulullah SAW pernah mengatakan “siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Quran ), ia akan mendapatkan satu kebaikan yang nilainya sama dengan 10 kali ganjaran (pahala). Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR Tirmidzi).

Selepas Ramadhan seorang muslim sangat dianjurkan untuk mengerjakan puasa sunat 6 hari di bulan Syawwal, karena pahalanya sangat besar. Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa 6 hari bulan Syawwal, berarti ia telah berpuasa setahun” (H.R Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majjah). Secara matematis mengapa puasa Ramadhan satu bulan penuh setara dengan puasa 10 bulan? Karena dalam satu bulan ada 30 hari dan setiap kebaikan pahalanya dilipat gandakan sepuluh kali, jadi 30 hari x 10 = 300 hari, setara 10 bulan. Jika ditambah puasa 6 hari bulan Syawwal, maka pahalanya 6 hari x 10 =60 hari , setara dengan 2 bulan. Jadi Puasa sebulan bulan Ramadhan diikuti puasa 6 hari bulan Syawwal, pahalanya setara dengan puasa satu tahun penuh.

Demikianlah hubungan antara matematika, bulan Ramadhan dan bulan Syawwal, mungkin lebih banyak lagi daripada fenomena di atas. Semoga bermanfaat dan dapat memotivasi kaum muslimin untuk lebih meningkatkan amaliah selama bulam ramadhan ini.

Konsep al-Nafs

Al-Nafs, dengan segala bentuknya terulang 313 kali dalam alquran, 72 kali di antaranya disebut dalam bentuk nafs yang berdiri sendiri. Ayat.ayat al-quran yang menyebut kata nafs/anfus menunjukan bermacam-macam arti, di antaranya : a. hati, al-Isra (17) : 25, b. jenis, al-Taubah (9) : 128, c. nafsu, Yunus (12) 53, d. jiwa/ruh, al-Imran (3) 145 dan 185, e. totalitas manusia, al-Maidah (5) 32, dan f. diri Tuhan, al-An’am (6) : 12, (Ensiklopedia, h. 297-298) secara umum al-nafs jika dikaitkan dengan hakekat manusia, menunjuk kepada sisi manusia yang berpotensi baik dan buruk. Al-nafs mempunyai sifat lembut (lathif) dan robbāni, ia adalah al-ruh sebelum bersatu dengan jasad (tubuh kasar manusia), sebab alruh diciptakan terlebih dahulu sebelum jasad (Amin al-Kurdi, Tanwir, h. 465). Sejalan dengan Amin al-Kurdi, Imam al-Gazali  dalam menguraikan al-nafs (jiwa) menggunakan empat terminologi, yakni al-qalb, al-ruh, al-nafs, dan al-‘aql (al-Gazali, 2005 : 69-75).

Keempat terminologi tersebut mempunyai arti  umum dan khusus.

Al-Qalb dalam pengertian pertama adalah al-qalb al-jasmani atau al-lahm al-shanubari, yaitu daging khusus yang berbentuk seperti jantung pisang Yang terletak di dalam dada sebelah kiri. Al-Qalb dalam pengertian pertama ini erat kaitannya dengan ilmu kedokteran dan tidak banyak menyangkut maksud-maksud agama serta kemanusiaan. Al-Qalb tersebut juga terdapat pada hewan. Al-Qalb dalam pengertian kedua menyangkut jiwa yang bersifat lathif, rohāniah, dan robbāni, dan mempunyai hubungan dengan al-qalb al-jasmani. Al-Qalb dalam pngertian kedua inilah yang merupakan hakekat dari manusia, karena sifat dan keadaannya yang bisa menerima, berkemanuan, berfikir, mengenal, dan beramal. Selanjutnya kepadanyalah ditujukan perintah dan larangan, serta pahala dan siksaan Allah.

Al-ruh dalam pengertian pertama adalah organik yang lembut yang kandungannya merupakan darah kental yang bersumber dari rongga al-Qalb al-Jasmani. Melalui nadi-nadi yang berdenyut (al-‘uraq ad-dawārib)  didistribusikan mengalir ke seluruh tubuh. Sirkulasi darah ke seluruh tubuh menimbulkan berkas-berkas cahaya kehidupan, indera, persepsif, penglihatan, pendengaran, indera penciuman, dari sana, dapat dimisalkan dengan timbulnya berkas-bekas cahaya dari lampu dalam minyak lentera rumah. Para dokter, ketika menunjuk kata al-ruh maksudnya adalah teminologi tersebut. Pengertian kedua, al-ruh bermakna lathifah yang memiliki pengetahuan dan pemahaman yang ada pada manusia. Inilah salah satu makna diantara dua makna yang dimiliki kalbu, dalam firman Allah :

[ 85 : اﻹﺳﺮاء  ]ويسالونك عن اﻟﺮوح ﻗﻞ اﻟﺮوح ﻣﻦ اﻣﺮ رﺑﻰ

Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh, katakanlah, ‘ruh itu termasuk urusan Tuhanku“

Kata al-nafs merupakan kata ambigu. Makna pertama dimaksudkan sebagai makna universaal, perpaduan dari potensi marah (fakultas emotif) dan hasrat ego (syahwat)  dalam diri manusia. Penggunaan kata al-nafs dalam hal ini banyak digunakan dalam tradisi Sufi. Mereka mengartikan al-nafs sebagai sumber (al-ashl) dari keseluruhan sifat-sifat manusia yang tercela. Karena itu mereka sering menggunakan istilah “berperang melawan nafsu dan mematahkan ego (syahwah) adalah suatu keharusan.” Al-Nafs dalam makna pertama (alquwwah al-gadhab)  ini tentu saja tidak dapat diterima melalui konsepsi kaum sufistik untuk bisa kembali kepada Allah swt., bahkan amat jauh dari Allah swt., dan al-nafs dalam kontek ini adalah satu partai yang memihak kepada setan. Apabila ketenteramannya tidak sempurna, namun masih mampu menahan nafsu syahwat, disebut nafsu lawwāmah. Sebaliknya, jika menyerah pada tantangan nafsu, bahkan memperturutkan syahwah dan ajakan setan, disebut sebagai nafsu amārah.

Makna kedua al-nafs adalah lathifah sebagaimana terminologi lainnya di atas – yakni sisi yang hakiki, spirit, dan identitas seseorang – tetapi dideskripsikan dengan sifat-sifat yang berbeda-beda menurut perbedaan situasi dan kondisinya. Apabila al-nafs berada dalam kondisi tentram dibawah perintah Allah swt., dan menepis segala kegundahan, maka disini disebut sebagai al-nafs al-muthmainnah ( jiwa yang tenteram ).

Al-aql dalam pengertian pertama dimaksudkan sebagai pengetahuan terhadap hakekat segala hal. Karena itu, al-aql adalah sifat kognitif dari sifat ilm yang bertempat dalam fakultas (khazanah) kalbu. Sedangkan makna kedua, adalah kekuatan perseptif (al-mudrik) yang menyerap ilmu pengetahuan, sehingga kadang-kadang disebut pula dengan al-qalb (kalbu). Yakni lathifah yang menjadi jati diri manusia. Nabi bersabda yang artinya : “Sesungguhnya di dalam badan anak adam itu ada segumpal darah. Apabila darah itu baik, maka baiklah seluruh badan anakadam itu semuanya. Apabila gumpalan darah itu rusak, maka rusaklah saeluruh badan anak aam itu. Perhatikan, bahwa yang dimaksudkan itu ialah hati”( Abu Abdillah, Muhammad ibn Isma’il, tt :19 dan 36).

Dari uraian di atas, makna pertama (makna umum) dari keempat terminologi  tersebut mempunyai perbedaan makna, sedangkan secara khusus (makna kedua), keempat terminologi tersebut mempunyai pengertian yang sama, yakni  jiwa  atau  spiritual  manusia  yang bersifat lathif, rabbāni dan rohani yang memerlukan hakekat, diri, dan zat manusia (al-Gazali dalam Yahya, : 26-29).

Dalam tarekat ada ungkapan, dengan  jiwa manusia dibangun, artinya jiwa adalah inti dari segala yang ada dalam diri manusia, sehingga pembahasan jiwa (al-nafs) sangat penting. Selain itu pula,  kejadian manusia menurut pandangan tarekat ini adalah karena qudrat dan irādat Allah. Qudrat dalam arti kemahakuasaan Allah dan Iradat adalah kehendak mutlak Allah dengan tanpa adanya intervensi dari pihak lain. Sehinggan mencipta maupun tidak mencipta adalah termasuk sifat jaiz Allah. Inilah pokok-pokok aqidah ahl sunnah wa al-jama’ah. (Abd. Malik Al-Juawini, Luma’ al-Adillah fi Qowaid Ahl Sunnah wa jama’ah, t.p : Dar al- Mishriyah Li Ta’rif wa tarjamah, 1965, h. 68,83,107). Ia menjadikan manusia dari dua eksistensi yang berbeda, yaitu eksistensi dari ‘alam al- amri, dan eksistensi dari alam al- khalqi. Alam al-amri (alam perintah) adalah alam ruhaniyah. Term tersebut di ambil dari firman Allah: “Katakanlah ruh itu termasuk dari amr(perintah) Tuhanku”. Qs Al Isra’ (17): 85. sedangkan Alam al-Khalqi (alam ciptaan) adalah alam jasmaniyah, Term tersebut merujuk pada firman Allah : “Kemudian kami kehendaki ia menjadi ciptaan yang lain, maka maha suci Allah yang telah memperbaiki semua ciptaan-Nya. “ Qs Al – Mukminun (23) :14. Sedangkan keduanya merujuk dari Qs Al -A’raf (7) : 54.

Ada lima entitas yang berasal dari ‘alam al-amri, yang disebut latha’if ( jama’ dari kata lathifah), yang berarti kelembutan. Yaitu lathifat al-akhfa, lathifat al-khafi, lathifat alsirriy, lathifat al-ruhi, dan lathifat al-qalbi. Sedangkan yang berasal dari ‘alam al-khalqi ada lima entitas, yaitu satu lathifah dan empat anasir (jama’ dari unsur). Kelima entitas itu adalah [1] ) Muslikh  Abdul  Rahman, (lathifat al   – nafsi, unsur api, unsur udara, unsur air dan unsur tana Menurut Mir Valiudin, ternyata teori tersebut adalah termasuk di antara temuan besar Imam Rabbani al-muadjdid alf al-tsani (Syekh Ahmad Faruqi Al-Sirhindi).[2] Informasi tentang kelima latha’if tersebut belum pernah disampaikan oleh para sufi sebelumnya, demikian juga komposisi lengkap struktur tubuh (jasmani dan rohani) manusia.[3] Dari teori ini pula ditemukan filsafat jiwa yang sederhana tetapi sangat gamblang, rasional dan progresif. Masih dalam kerangka teori filsafat kejadian manusianya Imam Rabbani, keyakinan bahwa :” Barang siapa mengetahui nafs-nya (dirinya), ia mengetahui Tuhanya”. Yakni barang siapa yag mengetahui akan kelemahan dirinya, kehinaan dan kebodohan, kefanaan dan keterbatasan dirinya, maka ia akan pasti mengetahui kemuliaan Tuhanya, kekuasaan, kemahatahuan, dan ke-baqa’-an   Tuhannya.[4] Pentingnya  untuk  mengetahui  hakikat  diri ini,   juga disandarkan pada firman Allah : Al – Isra’ (17) :72 yang artinya : ”Barang siapa yang didunia ini buta, maka di akhirat akan lebih buta lagi, dan tersesat jalan.”

Jiwa (nafs), adalah kelembutan (lathifat) yang bersifat ke-Tuhanan (rabbāniyah). Sebelum bersatu dengan badan jasmani manusia lathifat ini disebut dengan al-ruh, dan jiwa (al-nafs)  adalah ruh yang telah masuk dan bersatu dengan jasad yang menimbulkan potensi kesadaran (ego).[5] Jiwa yang diciptakan oleh Allah sebelum bersatunya dengan jasad bersifat suci, bersih dan cenderung mendekat kepada Allah, mengetahui akan Tuhannya. Akan tetapi setelah ruh tersebut bersatu dengan jasad akhirnya ia melihat (mengetahui) yang selain Allah, dan oleh karena itu terhalanglah ia dari Allah karena sibuknya dengan selain Allah.[6] Itulah sebabnya  ia  perlu  dididik,  dilatih,  dan   dibersihkan   agar   dapat  melihat,  mengetahui dan  berdekatan dengan Allah SWT.[7]

Ruh yang masuk dan bersatu dengan jasad manusia memiliki lapisan-lapisan kelembutan (latha’if), sehingga dapat di katakan bahwa tujuh lathifah yang ada pada diri manusia itu adalah al-nasf atau jiwa dalam istilah lain.[8] Tujuh lapisan tersebut berdasarkan nilai dan tingkat kelembutannya. Yaitu : (1) Nafs al – amārah;   (2) Nafs al – lawwāmah; (3) Nafs al – mulhimah; (4) Nafs al – muthmainnah; (5) Nafs al – rādliyah; (6) Nafs al – mardliyah; (7) Nafs al – kāmilah 9

Sehingga dapat di katakan bahwa ketujuh lapis kelembutan jiwa tersebut adalah tingkatan kesadaran manusia sepenuhnya. Sedangkam lathifat pada tahapan selanjutnya dipakai sebagai istilah praktis yang berkonotasi tempat, lathifat al-nafsi sebagai tempatnya nafs al amarah lathifat al- qalbi sebagai tempatnya nafs al- lawwamah, lathifat al- ruhi sebagai tempatnya nafs al-mulhimah, dan seterusnya.10 Kelembutan  jiwa  sebagai tingkatan dan kedalaman kesadaran, dapat di lihat dalam tahapan kejiwaan berikut ini:

(1). Lathifat al- nafsi berubah menjadi nafs al- amarah; (2) Lathifat al- qalbi berubah menjadi nafs al- lawwanah; (3) Lathifat al- rũhi berubah menjadi Nafs al- mulhimah; (4) Lathifat al- sirri berubah menjadi nafs al- muthmainnah; (5) Lathifat al- khāfi berubah menjadi Nafs al- rādliyah; (6) Lathifat al- akhfa berubah menjadi Nafs al- mardliyah; (7) Lathifat al- qalabi berubah menjadi Nafs al- kāmilah.11

Semakin kecenderungan seseorang dengan unsur jasmaniyah akan semakin jelek dan rendah nilai jiwanya, dan semakin jauh dari unsur jasmaniyah (materi) akan semakin baik dan suci. Karena berarti semakin dekat dengan unsur ilahiyah. Sehingga ada pengaruh antara keadaan kejiwaan dengan tabi’at, tingkah laku kondisi kesehatan fisik manusia.

[1] Muslikh  Abdul  Rahman, ‘Umdat  al-Salik  fi  Khair al-Masalik  ( Purwerejo ) :  Pondok Pesantren Brenjan, t.th. h. 43. Zamroji Saerozi, Al-Tadzkirat al-Thariqatain al-Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, Jombang : tp.,t.th , h. 3

[2] Ahmad Faruqi al-Shirhindi adalah seorang mursyid Tarekat Naqsyabandiyah di India (w. 1624 M). Tarekat Naqsyabandiyah yang berada di bawah kemursyidannya kemudian disebut dengan Naqsyabandiyah Mujaddiyah. Baca Martin Van Bruinnesen, Tarekat Naqsyabandiyah diIndonesia , Bandung : Mizan, 1995 , h. 55. Mir Valiudin, Contemplative Disciplines in Sufism diterjemahkan oleh MS. Nasrullah dengan judul Dzikir dan Kontemplasi dalam Tasawuf , Jakarta : Pustaka Hidayat, 1996 ,h. 140.

[3] Ibid .,h. 141. Tentang beberapa latha’if nenurut beberap sufi dapat di baca pada Shigeru Kamada, A. Studi of Term Sirr (Secrets) in Sufi Lathaif Theories, diterjemaahkan oleh MS. Nasrullah dengan judul “Telaah Istilah Sirr (Rahasia)-dalam teori-teori lathaif Sufi, dalam al-Hikmah: Jurnal Studi-Studi Islam, Bandung : Yayasan Mutahhari, Vol VI/1995, h. 57-77

[4] M. Amin al – Kurdi, Tanwir, h. 408

[5] Wawancara Mendalam, KH.Moh.Abdul Gaos Saefullah al-Maslul. Wakil talqin, Tasikmalaya, Juli 2006. Amin al- kurdi, Ibid., Mutawali al – Sya’rani, Nihayat al–A’lam, diterjemahkan oleh Amir Hamzah Farudin dengan judul Rahasia Allah di Balik Hakikat Alam Semesta, (Bandung : Pustaka Hidayah, 1994), h. 28

[6] M. Amin al – Kurdi, Tanwir., h. 408

[7] Pendidikan dan Pelatihan jiwa ini juga biasa disebut dengan Tazkiyat al –nafsi atau tashfiyat al qalbi (membersihkan hati). Abd. Barro’ Sa’ad ibn Muhammad al–Takshisi, Tazkiyat al–Nafsi, diterjemahkan oleh Muqimudin Sholeh dengan judul Tazkiyat al-nafs , (Solo:CV.Pustaka Mantiq, 1996), h.27

[8] Ibn Qayyim al-Jauziyah mengatakan bahwa, perbedaan antara ruh dan nafs hanya menyangkut sifat-sifatnya bukan zatnya, Syamsudin Abi Abdillah Ibn Qayyim al- Jauziyah, Al-Ruh fi al -Kalam ala Arwah al- Amwat wa al-Ahya’, (Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1992), h. 296.

[9] Nama-nama jiwa ini di berikan berdasarkan sifat-sifatnya, Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, Ihya Ulũm al-Din jilid III, (Kairo:Mustafa al-Bab al-Halabi,1333 H), h.

[10] Bertempat latifat yang bersifat immaterial ke dalam badan-badan jasmani manusia adalah sepenuhnya karena “kuasa” Allah. Allah menciptakan “kendaraan” media bereksistensi bagi ruh dalam diri manusia berupa “ruh kimiawi” atau biolistrik yang oleh al- Dahlawi disebut dengan Nasamah dan ia bersifat barzakhiyah, Syekh Waliyullah Abd. Rahim al- Dahlawi, Hujjat Allah al- Baligah, Jilid I , t.d., h. 38-40.

[11] Ketujuh macam dan tingkatan jiwa ini merupakan obyek pembinaan dan pendidikan spiritual

Guru Mendidik dengan Hati

Akhir bulan Januari 2018  dunia pendidikan dihebohkan dengan peristiwa terbunuhnya seorang guru salah satu SMA di Sampang Madura oleh peserta didiknya yang seharusnya menghargai dan menjadi pembimbing dirinya dalam mempersiapkan untuk menghadapai hidup dan kehidupan yang akan dijalaninya dimasa mendatang. Entah setan apa yang merasuki pikiran peserta didik tersebut sehingga begitu tega menghabisi gurunya sendiri karena alasan yang sangat sepele.

Guru sebagai pendidik memilik kewajiban untuk membimbing peserta didik ke arah yang lebih baik dengan berbagai cara dan metode pendidikan yang berlaku di dunia pendidikan, termasuk di dalamnya memerikan hukuman (punishment) yang sesuai dengan regulasi yang berlaku atas perbuatan dan perilaku peserta didik, selain itu pula dapat memeberikan ganjaran (reward) atas prestasi yang telah diraih oleh peserta didik.

Kata mendidik mengandung makna mengajar, sebab mendidik tidak hanya memberikan bekal kepada peserta didik tentang sikap (afektif = sosial dan religius) walakin juga tentang pengetahuan dan keterampilan. Kurikulum yang berlakusejak indonesia merdeka lebih menekankan kepada pengembangan dan peningkatan kompetensi pengetahuan sehingga kurang berkembang kompetensi sosial dan religius peserta didik.

Sejak tahun 2013 kurikulum yang diberlakukan di dunia pendidikan di Indonesia menggunakan sebuah konsep kurikulum dengan mengetengahkan konsep pendidikan menyeluruh  dari seluruh aspek manusia (all aspect education) yakni konsep mendidik aspek jasmani (keterampilan dan pengetahuan) dan rohani (sosial dan religius) sehingga guru dituntut dapat mendidik dengan seluruh aspek tersebut. Dengan demikian, bahwa kurikulum 2013  sedang berusaha dengan keras melalui sebuah konsep yang harus dilaksanakan oleh pelaku pendidikan untuk menjawab problematika yang muncul di tengah masyarakat. Secara garis besar konsep tersebut dibunyikan sebagai tujuan pendidikan nasional dalam Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Tujuan pendidikan nasional menggambarkan ketiga aspek yang harus dicapai oleh pelaku pendidikan, dalam dikenal dengan delapan pilar pendidikan, yaitu: 1. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Mahaesa; 2. Berakhlak Mulia; 3. Sehat; 4. Berilmu; 5. Cakap; 6. Kreatif; 7. Mandiri; 8. Menjadi warga Negara yang Demokratis.

Selain itu pula, tujuan pendidikan nasional diawali dengan kalimat “berkembangnya potensi peserta didik”. Kalimat “berkembangnya potensi” mengandung makna bahwa : 1. manusia ketika lahir telah memiliki potensi untuk dikembangknan,  2. siap menerima pengaruh yang dapat membantu dirinya untuk  berkembang, 3. pengauh  itu tidak  datang semt dei luar tetapi juga harus datang dari dalam diri.

Potensi yang sangat mendasar ketika manusia lahir adalah potensi keagamaan, yakni pengakuan dan kesaksian yang sebenarnya terhadap eksistensi Allah swt. sebagai tuhan pencipta alam dengan segala isinya termasuk dirinya. Sebagaimana difirmankan oleh ALlah swt. dalam al-Quran  yang artinya : ” Allah berfirman : Apakah Aku adalah tuhanmu, jawab manusia: benar adanya, akau bersakasi bahwa sesungguhnya Engkau adalah tuhanku.

 

belum selesai ….. punten

JENIS GURU

GURU AKTUAL  adalah guru yang menjalani profesinya dengan tidak sepenuh hati karena dalam dirinya tertanam niat yang sebenarnya untuk tidak menjadi guru, dengan kata lain menjalani guru karena batu loncatan sebelum mendapatkan profesi yang diinginkan.  Sehingga dalam menjalani profesinya hanya sekedar saja tanpa dibarengi dengan motivasi yang tinggi. Ia hanya datang ke sekolah untuk mengajar, ikut pelatihan, ikut PLPG, mendapat sertifikasi, mendapat gaji yang dianggapnya sebagai uang lelah dan jerihpayahnya sebagai guru, padahal dalam dirinya ia merasa terpaksa menjalaninya.

GURU HARMONIS adalah guru yang menjalani profesi yang digelutinya dengan baik, mengajar dijalani dengan baik, tekun, rajin, bagus, tapi batinnya tidak ingin menjadi guru, dan selalu cari kesempatan untuk keluar dari guru

GURU KARAKTER adalah guru yang menjalani profesinya dengan penuh semangat dan memiliki karekter sebagai seorang guru, yakni guru yang memiliki kompetensi yang empat (profesi, pedagogik, sosial dan kepribadian)

GURU QALBU adalah guru yang penampilannya berbasis kualitas qalbu atau hatinya, secara tulus ikhlas menjadi guru adalah bagian dari kebajikan yang tertanam dalam qolbunya

 

MENJADI GURU JADI

Guru adalah sebuah profesi yang dalam kesehariannya bertanggungjawab untuk menjadikan para peserta didik seorang yang  beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Mahaesa, berakhlak mulia, cerdas, terampil, sehat jasmani dan rohani, bertanggungjawab, dan menjadi warga negara yang demokratis.

Kesemua itu adalah tugas yang sangat berat yang dibebankan kepada pundak seorang guru, oleh karena itu untuk mencapai hal tersebut seorang guru harus memiliki berbagai kompetensi yang mumpuni  sehingga ketercapaian tujuan diatas dapat diraih dengan baik walaupun tidak sempurna.

Berbagai undang-undang dan peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk mengatur dan  membina profesi guru dengan jabatan fungsional yang ada di pundaknya, ditujukan agar para guru yang berhubungan langsung dengan peserta didik dalam rangka mencerdaskan anak bangsa, dapat mencapai tujuan yang sudah dicanangkan pemerintah melalui undang-undang  nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional , walaupun tidak menjamin sepenuhnya dengan berbagai peraturan dan perundang-undangan yang ada dan diberlakukan dapat membawa guru untuk mencapai tujuan pendidikan secara baik.

Tugas dan peran guru yang sangat berat tersebut menuntut para guru untuk selalu mendalami dan meningkatkan kompetensinya atas perkembangan regulasi dan keilmuannya, sehingga guru yang menjadi pion pertama dan utama dalam dunia pendidikan tidak mengalami ketertinggalan. Regulasi berkaitan dengan pendidikan selalu berubah menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi yang ada dan terjadi di lingkungan pendidikan itu sendiri, karena rsgulasi dibuat untuk menjawab tantangan dan kondisi serta situasi yang terjadi. Demikian juga dengan keilmuan uyang selalu berkembang, karena karakter ilmu itu tidak stagnan walakin berkembang mengikuti perkembangan yang terjadi di tengah masyarakat, sebab ilmu digunakan untuk menjawab problematika yang terjadi dan berkambang di tengah masyarakat, terutama ilmu sosial.

Berbagai ragulasi yang dikeluarkan oleh pihak yang berwenang  dan berkepentingan, tidak lain dan tiak bukan adalah bertujuan untuk menjadikan guru menjadi sebuah profesi yang dapat diandalkan dan memiliki kompetensi sesuai dengan harapan. Misalnya, regulasi yeng berkaitan dengan kompetensi yang seharusnya dimiliki oleh guru, dalan Undang-Undang Guru dan Dosen  nomor 14 tahun 2005 disebutkan bahwa kompetensi yang harus dimiliki guru adalah kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi pedagogik, dan kompetensi profesi, sementara menurut kementrian agama selain keempat kompetensi tersebut, seorang guru harus memiliki kompetensi yang lain, yaitu kompetensi teknologi, kompetensi religius, dan kompetensi leadership (kepemimpinan).

Selain regulasi berkaitan dengan kompetensi tersebut, masih banyak lagi regulasi-regulasi yang harus dikuasai dan dimiliki oleh para guru. Akan tetapi sebagai seorang guru jangan merasa puas dan berkecukupan bila hanya menguasai dan emilik seluruh regulasi yang telah dikeluarkan oleh para pihak yeng berkepentingan, sebab yang harus menjadi catatan penting bagi guru adalah bahwa regulasi yang dibuat akan selalu berbuah  dan berganti sesuai dengan kebutuhan, sehingga guru harus selalu mengikuti perubahan regulasi yang ada terutama berkaitan dengan kebijakan pendidikan.

Atas dasar tersebut , guru yang  berperan menyiapkan generasi di zaman mendatang (zaman next), dituntut selalu mengembangkan dirinya sesuai dengan perkembangan masyarakat itu sendiri, sehingga guru dapat mengetahui problematikan dan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, tidak ada konsep guru yang jadi, akan tetapi terus menjadi (dalam sebuah proses).

Walaupun demikian,

, . ………. belum selesai

Konsep Dasar Kurtilas

KONSEP DASAR KURTILAS

A. Pengertian dan Latar Belakang Penetapan Kurikulum Karateristik kurikulum 2013

Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum berbasis kompetensi adalah outcomes-based curriculum dan oleh karena itu pengembangan kurikulum diarahkan pada pencapaian kompetensi yang dirumuskan dari SKL. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum terbaru, hasil penyempurnaan kurikulum sebelumnya, Kurikulum KTSP atau Kurikulum tingkat satuan pendidikan. Perubahan mendasar adalah dikuruanginya beberapa mata pelajaran di tingkat satuan pendidikan SD dan SMP, serta dihilangkannya sistem penjurusan pada jejang atau tingkat satuan pendidikan SMA,  jadi tidak akan adalah lagi kasta terbaik dan kasta nomor 2 (pembuangan) seperti yang terjadi pada saat ini, yang katanya jurusan IPA itu favorit, anaknya pintar-pintar, sedangkan jurusan IPS dan bahasa itu nomor dua, jurusan “pembuangan” anaknya pada bandel-bandel.

Kurikulum 2013 sendiri mulai diterapkan secara bertahap dan terbatas mulai tahun pelajaran 2013 – 2014. Setiap kurikulum yang telah berlaku di Indonesia dari periode sebelum tahun 1945 hingga kurukulum tahun 2006, memiliki beberapa perbedaan sistem. Perbedaan sistem yang terjadi bisa merupakan kelebihan maupun kekurangan dari kurikulum itu sendiri. Kekurangan dan kelebihan tersebut dapat berasal dari landasan, komponen, evaluasi, prinsip, metode, maupun model pengembangan kurikulum. Untuk memperbaiki kekurangan yang ada, maka disusunlah kurikulum yang baru yang diharapkan akan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan tuntutan zaman. Oleh karena itu, kurikulum di Indonesia akan senantiasa berkembang maupun berubah sesuai yang disebutkan sebelumnya. Adanya kesenjangan dari pelaksanaan KTSP maka disusunlah kurikulum 2013 yang diharapkan dengan tersusunnya kurikulum 2013 dapat memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia. Karena kurikulum 2013 kurikulum yang sedang dalam tahapan perencanaan pemerintah, karena ini merupakan perbaikan dari struktur KTSP. Karakteristik yang paling menonjol dari kurikulum 2013 adalah mengajarnya menggunakan pendekatan pembelajaran tematik integratif, jumlah pelajarandi kurangi dari 10 menjadi 6 mata pelajaran, namun jumlah waktunya akan ditambah, sedikitnya adalah 4 jam pelajaran dalam waktu seminggu. Persamaan Struktur KTSP dan Kurikulum 2013 adalah dibuat dan dirancang oleh Pemerintah tepatnya oleh Depdiknas dan beberapa mata pelajaran masih ada yang sama seperti KTSP.

Penyempurnaan pola fikir perumusan kurikulum

KBK 2004/KTSP 2006 KURIKULUM 2013
Standar kompetensi lulusan diturunkan dari standar isi Standar isi diturunkan dari standar kompetensi lulusan melalui kompetensi inti yang bebas mata pelajaran
Standar kopetensi lulusan diturunkan dari kebutuhan Semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, ketrampilan, dan
Standar isi dirumuskan berdasarkan tujuan mata pelajaran (Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran), Yang dirincikan menjadi standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran Kompetensi diturunkan dari mata pelajaran Mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai pengetahuan
Pemisahan antara mata pelajaran pembentuk sikap, pembentuk keterampilan, dan pembentuk pengetahuan.
Mata pelajaran lepas 1 dengan yang lain, seperti sekumpulan mata pelajaran terpisah Semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti (tiap kelas).

Dalam kerangka inilah perlunya pengembangan kurikulum 2013, untuk  menghadapi berbagai masalah dan tantangan masa depan yang semakin lama semakin rumit dan kompleks. Bebagai tantangan masa depan tersebut antara lain berkaitan dengan globalisasi dan pasar bebas, masalah lingkungan hidup, pesatnya kemajuan teknologi informasi, konfergensi ilmu dan teknologi, ekonomi berbasis pengetahuan kebangkitan industry kreatif dan budaya, pergeseran kekuatan ekonomi dunia, pengaruh dan imbas teknosains, mutu, inpestasi dan transformasi pada sektor pendidikan, serta materi TIMSS dan PISA yang harus dimiliki oleh peserta didik.

Untuk menghadapi tantangan tersebut kurikulum harus mampu membekali peserta didik dengan berbagai kompetensi. Kompetensi yang diperlukan dimasa depan sesuai dengan pengembangan global antara lain : 1. Kemampuan berkomunikasi 2. Kemampuan berpikir jernih dan kritis 3. Kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan 4. Kemampuan menjadi warga Negara yang bertanggung jawab 5. Kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda 6. Kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal 7. Memiliki minat luas dalam kehidupan 8. Memiliki kesiapan untuk bekerja 9. Memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat atau minatnya 10. Memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.

Terkait dengan pengembangan kurikulum 2013, terdapat sejumlah prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, yaitu: 1. Kurikulum satuan pendidikan atau jenjang pendidikan bukan merupakan daftar mata pelajaran. 2. Standar kompetensi lulusan ditetapkan untuk satu satuan pendidikan, jenjang pendidikan, dan program pendidikan. 3. Model kurikulum berbasis kompetensi ditandai oleh pengembangan kompetensi berupa sikap, pengetahuan, keterampilan berpikir, dan keterampilan psikomotorik yang dikemas dalam berbagai mata pelajaran. 4. Kurikulum didasarkan pada prinsip bahwa setiap sikap, keterampilan dan pengetahuan yang dirumuskan dalam kurikulum berbentuk Kemampuan Dasar dapat dipelajari dan dikuasai setiap peserta didik (mastery learning) sesuai dengan kaedah kurikulum berbasis kompetensi. Adapun komponen-komponen pengembangan kurikulum, yaitu: 1. Komponen tujuan 2. Komponen Isi 3. Komponen metode 4. Komponen evaluasi

B. Landasan Pengembangan Kurikulum 2013

Pengembangan kurikulum 2013 dilandasi secara filosofis, yuridis, konseptual sebagai berikut:

1. Landasan Filosofis

Landasan yang berkaitan dengan makna atau hakikat pendidikan, landasan yang berusaha menelaah masalah-masalah pokok dalam pendidikan. landasan filosofi adalah landasan yang berdasarkan filsafat sesuai dengan sifatnya maka landasan filsafat menelaah sesuatu secara radikal, menyeluruh dan konseptual yang menghasilkan konsepsi mengenai kehidupan dan dunia  a. Filosofis pancasila yang memberikan berbagai prinsip dasar dalam pembangunan pendidikan. b. Filosofi pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik, dan masyarakat.

2. Landasan Yuridis

Landasan yuridis adalah landasan hukum yang mendasari semua kegiatan pendidikan mengenai hak-hak yang penting seperti komponen struktur, kurikulum, pengelolaan, pengawasan dan ketenangan pendidikan adalah hidup.

  1. RPJMM 2010-2014 Sektor pendidikan, tentang perubahan metodologi pembelajaran dan penataan kurikulum.
  2. PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
  3. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
  4. PP No 23 tahun 2013 tentang Perubahan Standar Nasional Pendidikan
  5. Permendikbud No 54 tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan
  6. Permendikbud No 64 tahun 2013 tentang Standar Isi
  7. Permendikbud No 65 tahun 2013 tentang Standar Proses
  8. Permendikbud No 66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian
  9. Permendikbud No 67 tahun 2013 tentang Kerangka Dasar Kurikulum Kompetensi SD
  10. Permendikbud No 68 tahun 2013 tentang Kerangka Dasar Kurikulum Kompetensi SMP
  11. Permendikbud No 69 tahun 2013 tentang Kerangka Dasar Kurikulum Kompetensi SMA
  12. Permendikbud No 70 tahun 2013 tentang Kerangka Dasar Kurikulum Kompetensi SMK
  13. Permendikbud No 71 tahun 2013 tentang Buku Teks Pelajaran Layak
  14. INPRES Nomor 1 Tahun 2010, tentang percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan Nasional, Penyempurnaan kurikulum dan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing dan karakter bangsa.

Dalam perkembangannya sejak digulirkan kurtilas pada tahun 2013 sampai saati ini telah mengalami penyempurnaan berkali-kali, dalah satunya adalah dengan menerbitkan permendiknas no 81A dan lampirannnya. Tiga tahun kemudian terjadi penyempurnaan ddengan diterbitkannya permendikbud  sebagai berikut:

  1. Permendikbud no 20 tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL)
  2. Permendikbud no 21 tahun 2016 tentang Standar Isi
  3. Permendikbud n0 22 tahun 2016 tentang Standar Proses
  4. Permendikbud no 23 tahun 2016 tentang Standar Penilaian
  5. Permendikbud no 24 tahun 2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar

Khusus untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA), kementrian agama republik INdonesia mengeluarkan kurikulum madrasah melalui Keputusan Menteri Agama (KMA) nomor 165 tahun 2014 tentang Kurikulum Madrasah untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab

Perkembangan terakhir terjadia pada tahun 2017 yakni penyempurnaan terhadap implmentasi kurikulum 2013 melalui pengintegrasian kecapakan abad 21, yakni : 1. 4Cs (Critical thinking, Collaborative, Creative, Communcation); 2. Literacy; 3. Pengembangan pendidikan karakter (PPK); 4. Penilaian yang HOTS (High Order Thinking Skill)

3. Landasan Konseptual

  1. Relevansi pendidikan (link and match)
  2. Kurikulum berbasis kompetensi, dan karakter.
  3. Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning)
  4. Pembelajaran aktif (Student active learning)
  5. Penilaian yang valid, utuh, dan menyeluruh.

Kurikulum 2013 merupakan kurikulum terbaru, hasil penyempurnaan kurikulum sebelumnya, Kurukum KTSP atau Kurikulum tingkat satuan pendidikan. Perubahan mendasar adalah dikuruanginya beberapa mata pelajaran di tingkat satuan pendidikan SD dan SMP, serta dihilangkannya sistem penjurusan pada jejang atau tingkat satuan pendidikan SMA, jadi nanti tidak akan adalah lagi kasta terbaik dan kasta nomor 2 (pembuangan) seperti yang terjadi pada saat ini, yang katanya jurusan IPA itu favorit, anaknya pintar-pintar, sedangkan jurusan IPS dan bahasa itu nomor dua, jurusan “pembuangan” anaknya pada bandel-bandel. Kurikul 2013 sendiri akan mulai diterapkan secara bertahap mulai tahun pelajaran 2013 – 2014.

C. Prinsip-prinsip dalam Pengembangan Kurikulum 2013

 Pengembangan kurikulum adalah sebuah proses yang merencanakan, menghasilkan suatu alat yang lebih baik dengan didasarkan pada hasil penilaian terhadap kurikulum yang telah berlaku, sehingga dapat memberikan kondisi belajar mengajar yang baik. Dengan kata lain pengembangan kurikulum adalah kegiatan untuk menghasilkan kurikulum baru melalui langkah-langkah penyusunan kurikulum atas dasar hasil penilaian yang dilakukan selama periode waktu tertentu.

Pada umumnya ahli kurikulum memandang kegiatan pengembnagn kurikulum sebagai suatu proses yang kontinu, merupakan suatu siklus yang menyangkut beberapa kurikulum yaitu komponen tujuan, bahan, kegiatan dan evaluasi.

Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu lembaga pendidikan sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum yang digunakan di lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip yang digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum.

Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengetengahkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang dibagi ke dalam dua kelompok : (1) prinsip – prinsip umum : relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektivitas; (2) prinsip-prinsip khusus : prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar, prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pelajaran, dan prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian.

Sedangkan Asep Herry Hernawan dkk (2002) mengemukakan lima prinsip dalam pengembangan kurikulum, yaitu :

  1. Prinsip relevansi; secara internal bahwa kurikulum memiliki relevansi di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebutmemiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan dan potensi peserta didik (relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosilogis).
  2. Prinsip fleksibilitas; dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta didik.
  3. Prinsip kontinuitas; yakni adanya kesinambungandalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antar jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.
  4. Prinsip efisiensi; yakni mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.
  5. Prinsip efektivitas; yakni mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Terkait dengan pengembangan kurikulum 2013, terdapat sejumlah prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, yaitu:

  1. Kurikulum satuan pendidikan atau jenjang pendidikan bukan merupakan daftar mata pelajaran. Atas dasar prinsip tersebut maka kurikulum sebagai rencana adalah rancangan untuk konten pendidikan yang harus dimiliki oleh seluruh peserta didik setelah menyelesaikan pendidikannya di satu satuan atau jenjang pendidikan tertentu.  Kurikulum sebagai proses adalah totalitas pengalaman belajar peserta didik di satu satuan atau jenjang pendidikan untuk menguasai konten pendidikan yang dirancang dalam rencana. Hasil belajar adalah perilaku peserta didik secara keseluruhan dalam menerapkan perolehannya di masyarakat.
  2. Standar kompetensi lulusan ditetapkan untuk satu satuan pendidikan, jenjang pendidikan, dan program pendidikan. Sesuai dengan kebijakan Pemerintah mengenai Wajib Belajar 12 Tahun maka Standar Kompetensi Lulusan yang menjadi dasar pengembangan kurikulum adalah kemampuan yang harus dimiliki peserta didik setelah mengikuti proses pendidikan selama 12 tahun. Selain itu sesuai dengan fungsi dan tujuan jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah serta fungsi dan tujuan dari masing-masing satuan pendidikan pada setiap jenjang pendidikan maka pengembangan kurikulum didasarkan pula atas Standar Kompetensi Lulusan pendidikan dasar dan pendidikan menengah serta Standar Kompetensi satuan pendidikan.
  3. Model kurikulum berbasis kompetensi ditandai oleh pengembangan kompetensi berupa sikap, pengetahuan, keterampilan berpikir, dan keterampilan psikomotorik yang dikemas dalam berbagai mata pelajaran. Kompetensi yang termasuk pengetahuan dikemas secara khusus dalam satu mata pelajaran. Kompetensi yang termasuk sikap dan ketrampilan dikemas dalam setiap mata pelajaran dan bersifat lintas mata pelajaran dan diorganisasikan dengan memperhatikan prinsip penguatan (organisasi horizontal) dan keberlanjutan (organisasi vertikal) sehingga memenuhi prinsip akumulasi dalam pembelajaran.
  4. Kurikulum didasarkan pada prinsip bahwa setiap sikap, keterampilan dan pengetahuan yang dirumuskan dalam kurikulum berbentuk Kemampuan Dasar dapat dipelajari dan dikuasai setiap peserta didik (mastery learning) sesuai dengan kaedah kurikulum berbasis kompetensi.
  5. Kurikulum dikembangkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan perbedaan dalam kemampuan dan minat. Atas dasar prinsip perbedaan kemampuan individual peserta didik, kurikulum memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memiliki tingkat penguasaan di atas standar yang telah ditentukan (dalam sikap, keterampilan dan pengetahuan). Oleh karena itu  beragam program  dan pengalaman belajar disediakan  sesuai dengan minat dan kemampuan awal peserta didik.
  6. Kurikulum berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta    Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik berada pada posisi sentral dan aktif dalam belajar.
  7. Kurikulum harus tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan,   budaya, teknologi, dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan,  budaya,  teknologi,  dan seni berkembang secara dinamis. Oleh karena  itu    konten  kurikulum  harus selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, budaya, teknologi,  dan seni; membangun rasa ingin tahu dan kemampuan bagi peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat hasil-hasil ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
  8. Kurikulum harus relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pendidikan tidak boleh memisahkan peserta didik dari lingkungannya dan pengembangan kurikulum didasarkan kepada prinsip  relevansi pendidikan dengan kebutuhan  dan lingkungan hidup. Artinya, kurikulum memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mempelajari permasalahan  di lingkungan masyarakatnya sebagai konten kurikulum dan kesempatan untuk mengaplikasikan yang dipelajari di kelas dalam kehidupan di masyarakat.
  9. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Pemberdayaan peserta didik untuk belajar sepanjang hayat dirumuskan dalam sikap, keterampilan,  dan pengetahuan dasar yang dapat digunakan untuk mengembangkan budaya belajar.
  10. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dikembangkan melalui penentuan struktur kurikulum, Standar Kemampuan/SK dan Kemampuan Dasar/KD  serta  Kepentingan daerah  dikembangkan  untuk membangun manusia yang tidak tercabut dari akar budayanya dan mampu berkontribusi langsung kepada masyarakat di sekitarnya. Kedua kepentingan ini  saling mengisi dan memberdayakan  keragaman dan kebersatuan yang dinyatakan dalam Bhinneka Tunggal Ika untuk membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  11. Penilaian hasil belajar ditujukan untuk mengetahui dan memperbaiki pencapaian kompetensi. Instrumen penilaian hasil belajar adalah alat untuk mengetahui kekurangan yang dimiliki setiap peserta didik atau sekelompok peserta didik. Kekurangan tersebut harus segera diikuti dengan proses perbaikan terhadap kekurangan dalam aspek hasil belajar yang dimiliki seorang atau sekelompok peserta didik.

D. Komponen-komponen Kurikulum 2013

Suatu kurikulum harus memiliki kesesuaian atau relevansi. Kesesuaian ini meliputi dua hal. Pertama kesesuaian antara kurikulum dengan tuntutan, kebutuhan, kondisi, dan perkembangan masyarakat. Kedua  kesesuaian antar komponen-komponen.

Adapun komponen-komponen pengembangan kurikulum, yaitu:

1. Komponen tujuan

Komponen tujuan merupakan komponen pembentuk kurikulum yang berkaitan dengan hal-hal yang ingin dicapai atau hasil yang diharapkan dari kurikulum yang akan dijalankan. Dengan membuat tujuan yang pasti, hal tersebut akan membantu dalam proses pembuatan kurikulum yang sesuai dan juga membantu dalam pelaksanaan kurikulumnya agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai.

Tujuan pendidikan diklasifikasikan menjadi empat, yaitu:

a. Tujuan Pendidikan Nasional

Dalam perspektif pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional dapat dilihat secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

b. Tujuan Institusional

Tujuan institusional adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap lembaga pendidikan. Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan sebagai berikut:

  • Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
  • Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
  • Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

c. Tujuan Kurikuler

Tujuan kurikuler adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi atau mata pelajaran.

d. Tujuan Instruksional atau Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran yang merupakan bagian dari tujuan kurikuler, dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki oleh anak didik setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam bidang studi tertentu dalam satu kali pertemuan.

2. Komponen Isi

Isi program kurikulum adalah segala sesuatu yang diberikan kepada anak didik dalam kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan. Isi kurikulum meliputi jenis-jenis bidang studi yang diajarkan dan isi program dari masing-masing bidang studi tersebut.

3. Komponen Metode

Komponen metode atau strategi merupakan komponen yang cukup penting karena metode dan strategi yang digunakan dalam kurikulum tersebut menentukan apakah materi yang diberikan atau tujuan yang diharapkan dapat tercapai atau tidak. Dalam prakteknya, seorang guru seyogyanya dapat mengembangkan strategi pembelajaran secara variatif, menggunakan berbagai strategi yang memungkinkan siswa untuk dapat melaksanakan proses belajarnya secara aktif, kreatif dan menyenangkan, dengan efektivitas yang tinggi. Pemilihan atau pembuatan metode atau strategi dalam menjalankan kurikulum yang telah dibuat haruslah sesuai dengan materi yang akan diberikan dan tujuan yang ingin dicapai.

4. Komponen Evaluasi

Dalam pengertian terbatas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan-tujuan pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan. Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai kriteria.

Komponen evaluasi merupakan bagian dari pembentuk kurikulum yang berperan sebagai cara untuk mengukur atau melihat apakah tujuan yang telah dibuat itu tercapai atau tidak. Selain itu, dengan melakukan evaluasi, kita dapat mengetahui apabila ada kesalahan pada materi yang diberikan atau metode yang digunakan dalam menjalankan kurikulum yang telah dibuat dengan melihat hasil dari evaluasi tersebut. Dengan begitu, kita juga dapat segera memperbaiki kesalahan yang ada atau mempertahankan bahkan meningkatkan hal-hal yang sudah baik atau berhasil.

 

 

Daftar Pustaka

Syaodih, nana. 1997. Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktek. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset.

http//:Komponen Pengembangan Kurikulum 2013 pada Bahan Uji Publik Kurikulum 2013 _ Kabar UPI.htm

http//:seri-kurikulum-2013-prinsip-prinsip.html