Matematika Ramadhan

By : Nurhamzah CS

Allah swt. memilih salah satu bulan dari duabelas bulan hijriyah sebagai sebuah bulan yang memiliki keutamaan dibanding dengan bulan-bulan lainnya yang sebelas, sehingga bulan ramadhan disebut bulan suci bahkan sayyidu syuhur (sayyidnya dari beberapa bulan), yakni bulan penuh hikmah, bulan yang dimuliakan Allah swt, karena di bulan Ramadhan ini Allah swt. melimpahkan rahmat (kasih sayang) dan maghfirah (ampunan) Nya kepada umat manusia dan itqu min an-nar (terhindar dari api neraka). Al-Qur’an (kitab suci agama Islam) pertama kali diturunkan pada bulan Ramadhan. Pada bulan ini juga umat Islam di seluruh dunia melaksanakan ibadah puasa. Puasa di bulan Ramadhan merupakan perintah Allah swt. yang wajib dilaksanakan oleh setiap mukmin, Allah swt. berfirman dalam Qur’an surat al-Baqarah ayat 183, yang artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Dengan tidak mengurangi rasa hormat para pembaca, tulisan ini  tidak akan membahas mengenai definisi puasa serta syarat dan rukunnya,  tetapi yang akan dibahas disini adalah hubungan antara matematika dengan ibadah di bulan Ramadhan atau disebut matematika ramadhan, yakni berbagai fenomena yang ada di bulan ramadhan dan dapat dihitung secara matematis, walaupun esensi dari hitungan tersebut lebih untuk memotivasi kaum muslimin dan mukminin dalam menjalankan ibadah kepada Allah swt. menjadi lebih baik dan lebih giat.

Dalam matematika terdapat materi yang disebut dengan opersi bilangan, yakni penjumlahan atau penambahan ( + ), pegurangan ( – ), perkalian ( x ), pembagian ( , kelipatan, dan sama dengan ( = ).

Penambahan (Penjumlahan). Bulan Ramadhan adalah bulan dimana Allah menambahkan beberapa keutamaan dibandingkan dengan bulan yang lain. Karena itu hendaknya kita  juga menambah berbagai amal sholeh selama bulan suci Ramadhan. Ramadhan seharusnya menjadi wasilah tarbiyah bagi bertambahnya kesabaran, kekhusukan, keimanan, ketaqwaan, keikhlasan, kesungguhan dan kepedulian.

Pengurangan. Bulan Ramadhan adalah bulan dimana Allah swt. berjanji akan mengurangi dan bahkan menghilangkan dosa-dosa bagi seorang muslim yang berpusa karena landasan keimanan dan ketaqwaan. Bahkan, Allah menjanjikan seorang mukmin yang berpuasa akan bersih kembali seperti seorang bayi yang tak berdoa. Karena itu selama Ramadhan tingkatkan kemauan dan kemampuan untuk mengurangi dan meninggalkan segala perbuatan maksiat dan dosa. Jika yang halal saja bisa ditinggalkan, apalagi yang haram.

Pengalian. Keistimewaan Ramadhan lainnya adalah bahwa Allah mengalikan derajat ibadah lebih tinggi dari kedudukan semula. Ibadah sunnah dikalikan oleh Allah derajatnya menjadi bernilai sebagai ibadah wajib. Ini adalah bentuk karunia Allah kepada hamba-hambanya yang taat. Oleh karena itu sudah semestinya kita mengalikan berbagai bentuk ibadah dan amal sholeh selama bulan Ramadhan ini, baik yang sunnah maupun yang wajib.

Pembagian. Ibadah puasa bulan Ramadhan berdimensi vertikal, yakni hubungan hamba dengan Allah swt. langsung. Sebab puasa hanya diketahui oleh orang bersangkutan dan Allah swt. saja. Karena itu Allah pula yang langsung akan memberikan dan membagikan pahala puasa, inilah istimewanya ibadah puasa. Karena itu sebagai rasa syukur, maka teruslah berbagai kebaikan dari tangan kita sendiri kepada saudara sesama muslim maupun seluruh manusia. Membagi kebaikan tidak hanya sebatas materi, namun juga ilmu, tenaga dan rasa.

Kelipatan. Allah telah berjanji akan melipatgandakan pahala bagi hamba-hamba-Nya yang ikhlas berpuasa dan beribadah karena Allah. saat kaum muslimin membaca Alquran di bulan suci Ramadhan. Jika kaum muslimin membaca satu juz Alquran kira-kira berjumlah 7000 huruf, kalikan satu huruf dengan 10 kebaikan dikalikan pahala 70 kewajiban maka akan menghasilkan  4.900.000 kebaikan. Jika satu kali saja Alquran dikhatamkan selama bulan Ramadhan, maka akan didapat 147 juta kebaikan. Jika tiga kali akan didapatkan 441 juta kebaikan.

Sama dengan. Jika keimanan ditambah puasa maka hasilnya sama dengan ampunan Allah atas semua dosa. Jika keikhlasan ditambah puasa maka sama dengan derajat ketaqwaan. Semoga puasa tahun ini menjadikan kita sebagai manusia bertaqwa, keluarga bertaqwa, pemimpin bertaqwa dan negara bertaqwa. Negara bertaqwa yaitu negera yang menerapkan Islam kaffah hingga mendatangkan keberkahan dari langit dan bumi serta menebarkan rahmat bagi alam semesta.

Selain pemaknaan operasi bilangan dengan keutamaan amaliah di bulan ramadhan, berikut beberapa fenomena terkait dengan bulan ramadhan yang dapat dimatematisasikan, sebgai bukti dari makna operasi bilangan tersebut.

Bulan ramadhan adalah bulan ke sembilan dari dua belas bulan yang lainnya. Artinya angka semilan adalah angka terbesar dari derat bilangan yang dikenal saat ini 0,1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9. Bilangan-bilangan tersebut untuk membentuk bilangan berikutnya terdiri dari bilangan-bilangan tersebut atau membentuk siklus dan jika sampai kepada angka sembilan maka akan kembali ke bilangan nol. Bila dikaitkan dengan bulan ramadhan dapat dimaknai bahwa bulan ramadhan adalah bulan yang memiliki derajat tertinggi diantara bulan-bulan lainnya dan disebut sebagai sayyidussuhur, setelah melewati bulan ke-9 maka akan kembali lagi pada titik 0 (nol). Artinya  setelah sebelas bulan lamanya umat islam sibuk dengan urusan duniawinya, maka bulan Ramadhan adalah bulan penggemblengan mental dan penyucian diri dari   segala salah dan dosa sehingga setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh harapannya umat islam kembali kepada kesucian (iedil fitri), kembali pada posisi 0 (nol).

Ibadah di bulan Ramadhan dibagi dalam tiga sesi yaitu pada sepertiga bulan pertama Allah menurunkan Rahmat-Nya, sepertiga kedua Allah menurunkan ampunan-Nya, dan sepertiga terahir Allah mengabulkan semua doa hamba-hamba Nya. Pada sepertiga terahir Ramadhan Allah juga menurunkan  lailatul qodar. Lailatul qodar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Secara matematis satu malam lailatul qodar setara dengan 83 tahun, 4 bulan. Perhitungan matematisnya adalah: dalam satu tahun ada 12 bulan, satu malam laelatul qodar setara dengan 1000 bulan, maka diperoleh dan 1000 : 12 = 83,3333333 mendekati 84 tahun. Jadi  nilai ibadah satu malam saja saat lailatul qodar setara nilainya dengan ibadah selama 84 tahun. Subhanallah.

Ciri khas bulan puasa adalah sholat tarawih. Ibarat sebuah kendaraan, tarawih di Indonesia itu macam-macam, ada yang 20 rakaat ada juga yagn 8 rakaat, namun setiap orang akan menentukan pilihannya masing-masing, sesuai dengan selera dan keyakinannya,yang penting tetap menjalankan sholat. Secara matematis, misalnya, orang yang  melaksankan tarawih 20 rakaat plus 3 witir. Perinciaanya, Jika setiap malam melaksanakan tarawih yang 20 rakaat, maka dalam sebulan telah melaksanakan sebanyak 600 rakaat. Jika ditambah witir 3 rakaat, maka sebulan penuh berarti melaksanakan 690 rakaat setiap malam. Belum lagi ditambah tahajud, 12 rakaat, sehingga totalnya 990 dengan perincian sebagai berikut:

Shalat tarawih             : 20 rakaat  x 30 hari  = 600 rakaat;

Witir                              : 3 rakaat x 30 hari      =   90 rakaat;

Tahajud                         : 12 rakaat  x 30 hari   = 360 rakaat; 

Jumlah rakaat dalam 30 hari                            = 990 rakaat.

Sebuah pencapain yang fantastis, yang tidak pernah dilakukan, kecuali pada bulan suci Ramadhan.

Demikian juga bagi mereka yang melaksanakan shalat tarawih 8 rakaat dengan witir 3 rakaat ditambah tahajud 12 rakaat, maka jumlah rakaatnya dalam sebulan adalah:

Shalat tarawih             : 8 rakaat  x 30 hari     = 240 rakaat

Witir                            : 3 rakaat x 30 hari      =   90 rakaat

Tahajud                       : 12 rakaat  x 30 hari   = 360 rakaat

Jumlah rakaat dalam 30 hari                           = 690 rakaat

Sekali lagi, tidak ada sholat yang dilakukan dengan jumlah rakaat melebih jumlah rakaat pada bulan suci Ramadhan.

Jika masing-masing menanbahi dengan dhuha setiap pagi dengan 4 rakaat selama sebulan maka hasilnya menjadi lebih fantastis. Wajarlah jika kemudian Rosulullah SAW mengatakan “barangsiapa yang melaksankan qiyam Ramadhan atas dasar iman dan semata-mata karena-Nya, maka Allah SWT mengampuni dosa-dosa yang lampau (HR Muslim).

Tadarus al-Quran juga dijanjikan oleh Allah pahala yang berlipatganda. Pahala yang dijanjikan Allah adalah pahala satu huruf al-quran adlah 10 pahala, sedangkana jumlah huruf di dalam Al-Quran itu mencapai  sebanyak 1.027.000 (satu juta dua puluh tujuh ribu). Maka pahala yang akan diperoleh bila satu kali khatam adalah 1.027.000×10=10.270.000 juta pahala yang diperoleh. Selannjutnya tinggal dihitunga bila dalam sebulan sampai khatam dua kali atau tiga kali.  Rosulullah SAW pernah mengatakan “siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Quran ), ia akan mendapatkan satu kebaikan yang nilainya sama dengan 10 kali ganjaran (pahala). Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR Tirmidzi).

Selepas Ramadhan seorang muslim sangat dianjurkan untuk mengerjakan puasa sunat 6 hari di bulan Syawwal, karena pahalanya sangat besar. Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa 6 hari bulan Syawwal, berarti ia telah berpuasa setahun” (H.R Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majjah). Secara matematis mengapa puasa Ramadhan satu bulan penuh setara dengan puasa 10 bulan? Karena dalam satu bulan ada 30 hari dan setiap kebaikan pahalanya dilipat gandakan sepuluh kali, jadi 30 hari x 10 = 300 hari, setara 10 bulan. Jika ditambah puasa 6 hari bulan Syawwal, maka pahalanya 6 hari x 10 =60 hari , setara dengan 2 bulan. Jadi Puasa sebulan bulan Ramadhan diikuti puasa 6 hari bulan Syawwal, pahalanya setara dengan puasa satu tahun penuh.

Demikianlah hubungan antara matematika, bulan Ramadhan dan bulan Syawwal, mungkin lebih banyak lagi daripada fenomena di atas. Semoga bermanfaat dan dapat memotivasi kaum muslimin untuk lebih meningkatkan amaliah selama bulam ramadhan ini.

Konsep al-Nafs

Al-Nafs, dengan segala bentuknya terulang 313 kali dalam alquran, 72 kali di antaranya disebut dalam bentuk nafs yang berdiri sendiri. Ayat.ayat al-quran yang menyebut kata nafs/anfus menunjukan bermacam-macam arti, di antaranya : a. hati, al-Isra (17) : 25, b. jenis, al-Taubah (9) : 128, c. nafsu, Yunus (12) 53, d. jiwa/ruh, al-Imran (3) 145 dan 185, e. totalitas manusia, al-Maidah (5) 32, dan f. diri Tuhan, al-An’am (6) : 12, (Ensiklopedia, h. 297-298) secara umum al-nafs jika dikaitkan dengan hakekat manusia, menunjuk kepada sisi manusia yang berpotensi baik dan buruk. Al-nafs mempunyai sifat lembut (lathif) dan robbāni, ia adalah al-ruh sebelum bersatu dengan jasad (tubuh kasar manusia), sebab alruh diciptakan terlebih dahulu sebelum jasad (Amin al-Kurdi, Tanwir, h. 465). Sejalan dengan Amin al-Kurdi, Imam al-Gazali  dalam menguraikan al-nafs (jiwa) menggunakan empat terminologi, yakni al-qalb, al-ruh, al-nafs, dan al-‘aql (al-Gazali, 2005 : 69-75).

Keempat terminologi tersebut mempunyai arti  umum dan khusus.

Al-Qalb dalam pengertian pertama adalah al-qalb al-jasmani atau al-lahm al-shanubari, yaitu daging khusus yang berbentuk seperti jantung pisang Yang terletak di dalam dada sebelah kiri. Al-Qalb dalam pengertian pertama ini erat kaitannya dengan ilmu kedokteran dan tidak banyak menyangkut maksud-maksud agama serta kemanusiaan. Al-Qalb tersebut juga terdapat pada hewan. Al-Qalb dalam pengertian kedua menyangkut jiwa yang bersifat lathif, rohāniah, dan robbāni, dan mempunyai hubungan dengan al-qalb al-jasmani. Al-Qalb dalam pngertian kedua inilah yang merupakan hakekat dari manusia, karena sifat dan keadaannya yang bisa menerima, berkemanuan, berfikir, mengenal, dan beramal. Selanjutnya kepadanyalah ditujukan perintah dan larangan, serta pahala dan siksaan Allah.

Al-ruh dalam pengertian pertama adalah organik yang lembut yang kandungannya merupakan darah kental yang bersumber dari rongga al-Qalb al-Jasmani. Melalui nadi-nadi yang berdenyut (al-‘uraq ad-dawārib)  didistribusikan mengalir ke seluruh tubuh. Sirkulasi darah ke seluruh tubuh menimbulkan berkas-berkas cahaya kehidupan, indera, persepsif, penglihatan, pendengaran, indera penciuman, dari sana, dapat dimisalkan dengan timbulnya berkas-bekas cahaya dari lampu dalam minyak lentera rumah. Para dokter, ketika menunjuk kata al-ruh maksudnya adalah teminologi tersebut. Pengertian kedua, al-ruh bermakna lathifah yang memiliki pengetahuan dan pemahaman yang ada pada manusia. Inilah salah satu makna diantara dua makna yang dimiliki kalbu, dalam firman Allah :

[ 85 : اﻹﺳﺮاء  ]ويسالونك عن اﻟﺮوح ﻗﻞ اﻟﺮوح ﻣﻦ اﻣﺮ رﺑﻰ

Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh, katakanlah, ‘ruh itu termasuk urusan Tuhanku“

Kata al-nafs merupakan kata ambigu. Makna pertama dimaksudkan sebagai makna universaal, perpaduan dari potensi marah (fakultas emotif) dan hasrat ego (syahwat)  dalam diri manusia. Penggunaan kata al-nafs dalam hal ini banyak digunakan dalam tradisi Sufi. Mereka mengartikan al-nafs sebagai sumber (al-ashl) dari keseluruhan sifat-sifat manusia yang tercela. Karena itu mereka sering menggunakan istilah “berperang melawan nafsu dan mematahkan ego (syahwah) adalah suatu keharusan.” Al-Nafs dalam makna pertama (alquwwah al-gadhab)  ini tentu saja tidak dapat diterima melalui konsepsi kaum sufistik untuk bisa kembali kepada Allah swt., bahkan amat jauh dari Allah swt., dan al-nafs dalam kontek ini adalah satu partai yang memihak kepada setan. Apabila ketenteramannya tidak sempurna, namun masih mampu menahan nafsu syahwat, disebut nafsu lawwāmah. Sebaliknya, jika menyerah pada tantangan nafsu, bahkan memperturutkan syahwah dan ajakan setan, disebut sebagai nafsu amārah.

Makna kedua al-nafs adalah lathifah sebagaimana terminologi lainnya di atas – yakni sisi yang hakiki, spirit, dan identitas seseorang – tetapi dideskripsikan dengan sifat-sifat yang berbeda-beda menurut perbedaan situasi dan kondisinya. Apabila al-nafs berada dalam kondisi tentram dibawah perintah Allah swt., dan menepis segala kegundahan, maka disini disebut sebagai al-nafs al-muthmainnah ( jiwa yang tenteram ).

Al-aql dalam pengertian pertama dimaksudkan sebagai pengetahuan terhadap hakekat segala hal. Karena itu, al-aql adalah sifat kognitif dari sifat ilm yang bertempat dalam fakultas (khazanah) kalbu. Sedangkan makna kedua, adalah kekuatan perseptif (al-mudrik) yang menyerap ilmu pengetahuan, sehingga kadang-kadang disebut pula dengan al-qalb (kalbu). Yakni lathifah yang menjadi jati diri manusia. Nabi bersabda yang artinya : “Sesungguhnya di dalam badan anak adam itu ada segumpal darah. Apabila darah itu baik, maka baiklah seluruh badan anakadam itu semuanya. Apabila gumpalan darah itu rusak, maka rusaklah saeluruh badan anak aam itu. Perhatikan, bahwa yang dimaksudkan itu ialah hati”( Abu Abdillah, Muhammad ibn Isma’il, tt :19 dan 36).

Dari uraian di atas, makna pertama (makna umum) dari keempat terminologi  tersebut mempunyai perbedaan makna, sedangkan secara khusus (makna kedua), keempat terminologi tersebut mempunyai pengertian yang sama, yakni  jiwa  atau  spiritual  manusia  yang bersifat lathif, rabbāni dan rohani yang memerlukan hakekat, diri, dan zat manusia (al-Gazali dalam Yahya, : 26-29).

Dalam tarekat ada ungkapan, dengan  jiwa manusia dibangun, artinya jiwa adalah inti dari segala yang ada dalam diri manusia, sehingga pembahasan jiwa (al-nafs) sangat penting. Selain itu pula,  kejadian manusia menurut pandangan tarekat ini adalah karena qudrat dan irādat Allah. Qudrat dalam arti kemahakuasaan Allah dan Iradat adalah kehendak mutlak Allah dengan tanpa adanya intervensi dari pihak lain. Sehinggan mencipta maupun tidak mencipta adalah termasuk sifat jaiz Allah. Inilah pokok-pokok aqidah ahl sunnah wa al-jama’ah. (Abd. Malik Al-Juawini, Luma’ al-Adillah fi Qowaid Ahl Sunnah wa jama’ah, t.p : Dar al- Mishriyah Li Ta’rif wa tarjamah, 1965, h. 68,83,107). Ia menjadikan manusia dari dua eksistensi yang berbeda, yaitu eksistensi dari ‘alam al- amri, dan eksistensi dari alam al- khalqi. Alam al-amri (alam perintah) adalah alam ruhaniyah. Term tersebut di ambil dari firman Allah: “Katakanlah ruh itu termasuk dari amr(perintah) Tuhanku”. Qs Al Isra’ (17): 85. sedangkan Alam al-Khalqi (alam ciptaan) adalah alam jasmaniyah, Term tersebut merujuk pada firman Allah : “Kemudian kami kehendaki ia menjadi ciptaan yang lain, maka maha suci Allah yang telah memperbaiki semua ciptaan-Nya. “ Qs Al – Mukminun (23) :14. Sedangkan keduanya merujuk dari Qs Al -A’raf (7) : 54.

Ada lima entitas yang berasal dari ‘alam al-amri, yang disebut latha’if ( jama’ dari kata lathifah), yang berarti kelembutan. Yaitu lathifat al-akhfa, lathifat al-khafi, lathifat alsirriy, lathifat al-ruhi, dan lathifat al-qalbi. Sedangkan yang berasal dari ‘alam al-khalqi ada lima entitas, yaitu satu lathifah dan empat anasir (jama’ dari unsur). Kelima entitas itu adalah [1] ) Muslikh  Abdul  Rahman, (lathifat al   – nafsi, unsur api, unsur udara, unsur air dan unsur tana Menurut Mir Valiudin, ternyata teori tersebut adalah termasuk di antara temuan besar Imam Rabbani al-muadjdid alf al-tsani (Syekh Ahmad Faruqi Al-Sirhindi).[2] Informasi tentang kelima latha’if tersebut belum pernah disampaikan oleh para sufi sebelumnya, demikian juga komposisi lengkap struktur tubuh (jasmani dan rohani) manusia.[3] Dari teori ini pula ditemukan filsafat jiwa yang sederhana tetapi sangat gamblang, rasional dan progresif. Masih dalam kerangka teori filsafat kejadian manusianya Imam Rabbani, keyakinan bahwa :” Barang siapa mengetahui nafs-nya (dirinya), ia mengetahui Tuhanya”. Yakni barang siapa yag mengetahui akan kelemahan dirinya, kehinaan dan kebodohan, kefanaan dan keterbatasan dirinya, maka ia akan pasti mengetahui kemuliaan Tuhanya, kekuasaan, kemahatahuan, dan ke-baqa’-an   Tuhannya.[4] Pentingnya  untuk  mengetahui  hakikat  diri ini,   juga disandarkan pada firman Allah : Al – Isra’ (17) :72 yang artinya : ”Barang siapa yang didunia ini buta, maka di akhirat akan lebih buta lagi, dan tersesat jalan.”

Jiwa (nafs), adalah kelembutan (lathifat) yang bersifat ke-Tuhanan (rabbāniyah). Sebelum bersatu dengan badan jasmani manusia lathifat ini disebut dengan al-ruh, dan jiwa (al-nafs)  adalah ruh yang telah masuk dan bersatu dengan jasad yang menimbulkan potensi kesadaran (ego).[5] Jiwa yang diciptakan oleh Allah sebelum bersatunya dengan jasad bersifat suci, bersih dan cenderung mendekat kepada Allah, mengetahui akan Tuhannya. Akan tetapi setelah ruh tersebut bersatu dengan jasad akhirnya ia melihat (mengetahui) yang selain Allah, dan oleh karena itu terhalanglah ia dari Allah karena sibuknya dengan selain Allah.[6] Itulah sebabnya  ia  perlu  dididik,  dilatih,  dan   dibersihkan   agar   dapat  melihat,  mengetahui dan  berdekatan dengan Allah SWT.[7]

Ruh yang masuk dan bersatu dengan jasad manusia memiliki lapisan-lapisan kelembutan (latha’if), sehingga dapat di katakan bahwa tujuh lathifah yang ada pada diri manusia itu adalah al-nasf atau jiwa dalam istilah lain.[8] Tujuh lapisan tersebut berdasarkan nilai dan tingkat kelembutannya. Yaitu : (1) Nafs al – amārah;   (2) Nafs al – lawwāmah; (3) Nafs al – mulhimah; (4) Nafs al – muthmainnah; (5) Nafs al – rādliyah; (6) Nafs al – mardliyah; (7) Nafs al – kāmilah 9

Sehingga dapat di katakan bahwa ketujuh lapis kelembutan jiwa tersebut adalah tingkatan kesadaran manusia sepenuhnya. Sedangkam lathifat pada tahapan selanjutnya dipakai sebagai istilah praktis yang berkonotasi tempat, lathifat al-nafsi sebagai tempatnya nafs al amarah lathifat al- qalbi sebagai tempatnya nafs al- lawwamah, lathifat al- ruhi sebagai tempatnya nafs al-mulhimah, dan seterusnya.10 Kelembutan  jiwa  sebagai tingkatan dan kedalaman kesadaran, dapat di lihat dalam tahapan kejiwaan berikut ini:

(1). Lathifat al- nafsi berubah menjadi nafs al- amarah; (2) Lathifat al- qalbi berubah menjadi nafs al- lawwanah; (3) Lathifat al- rũhi berubah menjadi Nafs al- mulhimah; (4) Lathifat al- sirri berubah menjadi nafs al- muthmainnah; (5) Lathifat al- khāfi berubah menjadi Nafs al- rādliyah; (6) Lathifat al- akhfa berubah menjadi Nafs al- mardliyah; (7) Lathifat al- qalabi berubah menjadi Nafs al- kāmilah.11

Semakin kecenderungan seseorang dengan unsur jasmaniyah akan semakin jelek dan rendah nilai jiwanya, dan semakin jauh dari unsur jasmaniyah (materi) akan semakin baik dan suci. Karena berarti semakin dekat dengan unsur ilahiyah. Sehingga ada pengaruh antara keadaan kejiwaan dengan tabi’at, tingkah laku kondisi kesehatan fisik manusia.

[1] Muslikh  Abdul  Rahman, ‘Umdat  al-Salik  fi  Khair al-Masalik  ( Purwerejo ) :  Pondok Pesantren Brenjan, t.th. h. 43. Zamroji Saerozi, Al-Tadzkirat al-Thariqatain al-Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, Jombang : tp.,t.th , h. 3

[2] Ahmad Faruqi al-Shirhindi adalah seorang mursyid Tarekat Naqsyabandiyah di India (w. 1624 M). Tarekat Naqsyabandiyah yang berada di bawah kemursyidannya kemudian disebut dengan Naqsyabandiyah Mujaddiyah. Baca Martin Van Bruinnesen, Tarekat Naqsyabandiyah diIndonesia , Bandung : Mizan, 1995 , h. 55. Mir Valiudin, Contemplative Disciplines in Sufism diterjemahkan oleh MS. Nasrullah dengan judul Dzikir dan Kontemplasi dalam Tasawuf , Jakarta : Pustaka Hidayat, 1996 ,h. 140.

[3] Ibid .,h. 141. Tentang beberapa latha’if nenurut beberap sufi dapat di baca pada Shigeru Kamada, A. Studi of Term Sirr (Secrets) in Sufi Lathaif Theories, diterjemaahkan oleh MS. Nasrullah dengan judul “Telaah Istilah Sirr (Rahasia)-dalam teori-teori lathaif Sufi, dalam al-Hikmah: Jurnal Studi-Studi Islam, Bandung : Yayasan Mutahhari, Vol VI/1995, h. 57-77

[4] M. Amin al – Kurdi, Tanwir, h. 408

[5] Wawancara Mendalam, KH.Moh.Abdul Gaos Saefullah al-Maslul. Wakil talqin, Tasikmalaya, Juli 2006. Amin al- kurdi, Ibid., Mutawali al – Sya’rani, Nihayat al–A’lam, diterjemahkan oleh Amir Hamzah Farudin dengan judul Rahasia Allah di Balik Hakikat Alam Semesta, (Bandung : Pustaka Hidayah, 1994), h. 28

[6] M. Amin al – Kurdi, Tanwir., h. 408

[7] Pendidikan dan Pelatihan jiwa ini juga biasa disebut dengan Tazkiyat al –nafsi atau tashfiyat al qalbi (membersihkan hati). Abd. Barro’ Sa’ad ibn Muhammad al–Takshisi, Tazkiyat al–Nafsi, diterjemahkan oleh Muqimudin Sholeh dengan judul Tazkiyat al-nafs , (Solo:CV.Pustaka Mantiq, 1996), h.27

[8] Ibn Qayyim al-Jauziyah mengatakan bahwa, perbedaan antara ruh dan nafs hanya menyangkut sifat-sifatnya bukan zatnya, Syamsudin Abi Abdillah Ibn Qayyim al- Jauziyah, Al-Ruh fi al -Kalam ala Arwah al- Amwat wa al-Ahya’, (Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1992), h. 296.

[9] Nama-nama jiwa ini di berikan berdasarkan sifat-sifatnya, Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, Ihya Ulũm al-Din jilid III, (Kairo:Mustafa al-Bab al-Halabi,1333 H), h.

[10] Bertempat latifat yang bersifat immaterial ke dalam badan-badan jasmani manusia adalah sepenuhnya karena “kuasa” Allah. Allah menciptakan “kendaraan” media bereksistensi bagi ruh dalam diri manusia berupa “ruh kimiawi” atau biolistrik yang oleh al- Dahlawi disebut dengan Nasamah dan ia bersifat barzakhiyah, Syekh Waliyullah Abd. Rahim al- Dahlawi, Hujjat Allah al- Baligah, Jilid I , t.d., h. 38-40.

[11] Ketujuh macam dan tingkatan jiwa ini merupakan obyek pembinaan dan pendidikan spiritual

Guru Mendidik dengan Hati

Akhir bulan Januari 2018  dunia pendidikan dihebohkan dengan peristiwa terbunuhnya seorang guru salah satu SMA di Sampang Madura oleh peserta didiknya yang seharusnya menghargai dan menjadi pembimbing dirinya dalam mempersiapkan untuk menghadapai hidup dan kehidupan yang akan dijalaninya dimasa mendatang. Entah setan apa yang merasuki pikiran peserta didik tersebut sehingga begitu tega menghabisi gurunya sendiri karena alasan yang sangat sepele.

Guru sebagai pendidik memilik kewajiban untuk membimbing peserta didik ke arah yang lebih baik dengan berbagai cara dan metode pendidikan yang berlaku di dunia pendidikan, termasuk di dalamnya memerikan hukuman (punishment) yang sesuai dengan regulasi yang berlaku atas perbuatan dan perilaku peserta didik, selain itu pula dapat memeberikan ganjaran (reward) atas prestasi yang telah diraih oleh peserta didik.

Kata mendidik mengandung makna mengajar, sebab mendidik tidak hanya memberikan bekal kepada peserta didik tentang sikap (afektif = sosial dan religius) walakin juga tentang pengetahuan dan keterampilan. Kurikulum yang berlakusejak indonesia merdeka lebih menekankan kepada pengembangan dan peningkatan kompetensi pengetahuan sehingga kurang berkembang kompetensi sosial dan religius peserta didik.

Sejak tahun 2013 kurikulum yang diberlakukan di dunia pendidikan di Indonesia menggunakan sebuah konsep kurikulum dengan mengetengahkan konsep pendidikan menyeluruh  dari seluruh aspek manusia (all aspect education) yakni konsep mendidik aspek jasmani (keterampilan dan pengetahuan) dan rohani (sosial dan religius) sehingga guru dituntut dapat mendidik dengan seluruh aspek tersebut. Dengan demikian, bahwa kurikulum 2013  sedang berusaha dengan keras melalui sebuah konsep yang harus dilaksanakan oleh pelaku pendidikan untuk menjawab problematika yang muncul di tengah masyarakat. Secara garis besar konsep tersebut dibunyikan sebagai tujuan pendidikan nasional dalam Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Tujuan pendidikan nasional menggambarkan ketiga aspek yang harus dicapai oleh pelaku pendidikan, dalam dikenal dengan delapan pilar pendidikan, yaitu: 1. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Mahaesa; 2. Berakhlak Mulia; 3. Sehat; 4. Berilmu; 5. Cakap; 6. Kreatif; 7. Mandiri; 8. Menjadi warga Negara yang Demokratis.

Selain itu pula, tujuan pendidikan nasional diawali dengan kalimat “berkembangnya potensi peserta didik”. Kalimat “berkembangnya potensi” mengandung makna bahwa : 1. manusia ketika lahir telah memiliki potensi untuk dikembangknan,  2. siap menerima pengaruh yang dapat membantu dirinya untuk  berkembang, 3. pengauh  itu tidak  datang semt dei luar tetapi juga harus datang dari dalam diri.

Potensi yang sangat mendasar ketika manusia lahir adalah potensi keagamaan, yakni pengakuan dan kesaksian yang sebenarnya terhadap eksistensi Allah swt. sebagai tuhan pencipta alam dengan segala isinya termasuk dirinya. Sebagaimana difirmankan oleh ALlah swt. dalam al-Quran  yang artinya : ” Allah berfirman : Apakah Aku adalah tuhanmu, jawab manusia: benar adanya, akau bersakasi bahwa sesungguhnya Engkau adalah tuhanku.

 

belum selesai ….. punten

JENIS GURU

GURU AKTUAL  adalah guru yang menjalani profesinya dengan tidak sepenuh hati karena dalam dirinya tertanam niat yang sebenarnya untuk tidak menjadi guru, dengan kata lain menjalani guru karena batu loncatan sebelum mendapatkan profesi yang diinginkan.  Sehingga dalam menjalani profesinya hanya sekedar saja tanpa dibarengi dengan motivasi yang tinggi. Ia hanya datang ke sekolah untuk mengajar, ikut pelatihan, ikut PLPG, mendapat sertifikasi, mendapat gaji yang dianggapnya sebagai uang lelah dan jerihpayahnya sebagai guru, padahal dalam dirinya ia merasa terpaksa menjalaninya.

GURU HARMONIS adalah guru yang menjalani profesi yang digelutinya dengan baik, mengajar dijalani dengan baik, tekun, rajin, bagus, tapi batinnya tidak ingin menjadi guru, dan selalu cari kesempatan untuk keluar dari guru

GURU KARAKTER adalah guru yang menjalani profesinya dengan penuh semangat dan memiliki karekter sebagai seorang guru, yakni guru yang memiliki kompetensi yang empat (profesi, pedagogik, sosial dan kepribadian)

GURU QALBU adalah guru yang penampilannya berbasis kualitas qalbu atau hatinya, secara tulus ikhlas menjadi guru adalah bagian dari kebajikan yang tertanam dalam qolbunya

 

MENJADI GURU JADI

Guru adalah sebuah profesi yang dalam kesehariannya bertanggungjawab untuk menjadikan para peserta didik seorang yang  beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Mahaesa, berakhlak mulia, cerdas, terampil, sehat jasmani dan rohani, bertanggungjawab, dan menjadi warga negara yang demokratis.

Kesemua itu adalah tugas yang sangat berat yang dibebankan kepada pundak seorang guru, oleh karena itu untuk mencapai hal tersebut seorang guru harus memiliki berbagai kompetensi yang mumpuni  sehingga ketercapaian tujuan diatas dapat diraih dengan baik walaupun tidak sempurna.

Berbagai undang-undang dan peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk mengatur dan  membina profesi guru dengan jabatan fungsional yang ada di pundaknya, ditujukan agar para guru yang berhubungan langsung dengan peserta didik dalam rangka mencerdaskan anak bangsa, dapat mencapai tujuan yang sudah dicanangkan pemerintah melalui undang-undang  nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional , walaupun tidak menjamin sepenuhnya dengan berbagai peraturan dan perundang-undangan yang ada dan diberlakukan dapat membawa guru untuk mencapai tujuan pendidikan secara baik.

Tugas dan peran guru yang sangat berat tersebut menuntut para guru untuk selalu mendalami dan meningkatkan kompetensinya atas perkembangan regulasi dan keilmuannya, sehingga guru yang menjadi pion pertama dan utama dalam dunia pendidikan tidak mengalami ketertinggalan. Regulasi berkaitan dengan pendidikan selalu berubah menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi yang ada dan terjadi di lingkungan pendidikan itu sendiri, karena rsgulasi dibuat untuk menjawab tantangan dan kondisi serta situasi yang terjadi. Demikian juga dengan keilmuan uyang selalu berkembang, karena karakter ilmu itu tidak stagnan walakin berkembang mengikuti perkembangan yang terjadi di tengah masyarakat, sebab ilmu digunakan untuk menjawab problematika yang terjadi dan berkambang di tengah masyarakat, terutama ilmu sosial.

Berbagai ragulasi yang dikeluarkan oleh pihak yang berwenang  dan berkepentingan, tidak lain dan tiak bukan adalah bertujuan untuk menjadikan guru menjadi sebuah profesi yang dapat diandalkan dan memiliki kompetensi sesuai dengan harapan. Misalnya, regulasi yeng berkaitan dengan kompetensi yang seharusnya dimiliki oleh guru, dalan Undang-Undang Guru dan Dosen  nomor 14 tahun 2005 disebutkan bahwa kompetensi yang harus dimiliki guru adalah kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi pedagogik, dan kompetensi profesi, sementara menurut kementrian agama selain keempat kompetensi tersebut, seorang guru harus memiliki kompetensi yang lain, yaitu kompetensi teknologi, kompetensi religius, dan kompetensi leadership (kepemimpinan).

Selain regulasi berkaitan dengan kompetensi tersebut, masih banyak lagi regulasi-regulasi yang harus dikuasai dan dimiliki oleh para guru. Akan tetapi sebagai seorang guru jangan merasa puas dan berkecukupan bila hanya menguasai dan emilik seluruh regulasi yang telah dikeluarkan oleh para pihak yeng berkepentingan, sebab yang harus menjadi catatan penting bagi guru adalah bahwa regulasi yang dibuat akan selalu berbuah  dan berganti sesuai dengan kebutuhan, sehingga guru harus selalu mengikuti perubahan regulasi yang ada terutama berkaitan dengan kebijakan pendidikan.

Atas dasar tersebut , guru yang  berperan menyiapkan generasi di zaman mendatang (zaman next), dituntut selalu mengembangkan dirinya sesuai dengan perkembangan masyarakat itu sendiri, sehingga guru dapat mengetahui problematikan dan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, tidak ada konsep guru yang jadi, akan tetapi terus menjadi (dalam sebuah proses).

Walaupun demikian,

, . ………. belum selesai

Matematika Kurtilas SMP/MTs

Sebagaimana telah diterbitkan permendikbud kurikulum 2013 nomor 24 tahun 2016 tentang standar Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar, bahwa materi yang harus disampaikan kepada peserta didik mengalami perubahan, materi-materi tersebut dapat dibaca di permendikbud di atas. Secara singkat dapat disajikan berikut:

Matematika kelas VII

  1. Bilangan bulat dan pecahan
  2. Operasi hitung bilangan bulat dan pecahan
  3. Representasi bilangan bulat berpangkat positif dan negatif
  4. Himpunan
  5. Bentuk aljabar dan operasinya
  6. Persamaan dan pertidaksamaan liniear satu variabel
  7. Rasio dua besaran
  8. Perbandingan senilai dan berbalik nilai
  9. Aritmetika Sosial
  10. Hubungan antar sudut akibat dua garis sejajar dipotong sebuah garis
  11. Segiempat dan segitiga
  12. Statistika (cara penyajian data)

Kelas VIII

  1. Pola pada barisan bilangan
  2. Kedudukan titik pada koordinat kartesius
  3. Relas dan Fungsi
  4. Fungsi linear dan grafiknya
  5. Sistem Persamaan linear dua variabel
  6. Teorema Pythagoras
  7. Lingkaran (sudut pusat, sudut keliling,  luas juring)
  8. Garis singgung persekutuan luar dan dalam dua lingkaran
  9. Bangun ruang sisi datar
  10. Statistika (distribusi data, mean, media, modus, jangkauan, dan penarikan simpulan)
  11. Peluang empirik dan teoritik

Kelas IX

  1. Bilangan berpangkat dan bentuk akar
  2. Persamaan kuadrat
  3. Fungsi Kuadrat
  4. Diskriminan
  5. Transformasi geometri
  6. Kesebangunan dan Kekongruenan
  7. Bangun ruang sisi lengkung