Matematika Ramadhan

By : Nurhamzah CS

Allah swt. memilih salah satu bulan dari duabelas bulan hijriyah sebagai sebuah bulan yang memiliki keutamaan dibanding dengan bulan-bulan lainnya yang sebelas, sehingga bulan ramadhan disebut bulan suci bahkan sayyidu syuhur (sayyidnya dari beberapa bulan), yakni bulan penuh hikmah, bulan yang dimuliakan Allah swt, karena di bulan Ramadhan ini Allah swt. melimpahkan rahmat (kasih sayang) dan maghfirah (ampunan) Nya kepada umat manusia dan itqu min an-nar (terhindar dari api neraka). Al-Qur’an (kitab suci agama Islam) pertama kali diturunkan pada bulan Ramadhan. Pada bulan ini juga umat Islam di seluruh dunia melaksanakan ibadah puasa. Puasa di bulan Ramadhan merupakan perintah Allah swt. yang wajib dilaksanakan oleh setiap mukmin, Allah swt. berfirman dalam Qur’an surat al-Baqarah ayat 183, yang artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Dengan tidak mengurangi rasa hormat para pembaca, tulisan ini  tidak akan membahas mengenai definisi puasa serta syarat dan rukunnya,  tetapi yang akan dibahas disini adalah hubungan antara matematika dengan ibadah di bulan Ramadhan atau disebut matematika ramadhan, yakni berbagai fenomena yang ada di bulan ramadhan dan dapat dihitung secara matematis, walaupun esensi dari hitungan tersebut lebih untuk memotivasi kaum muslimin dan mukminin dalam menjalankan ibadah kepada Allah swt. menjadi lebih baik dan lebih giat.

Dalam matematika terdapat materi yang disebut dengan opersi bilangan, yakni penjumlahan atau penambahan ( + ), pegurangan ( – ), perkalian ( x ), pembagian ( , kelipatan, dan sama dengan ( = ).

Penambahan (Penjumlahan). Bulan Ramadhan adalah bulan dimana Allah menambahkan beberapa keutamaan dibandingkan dengan bulan yang lain. Karena itu hendaknya kita  juga menambah berbagai amal sholeh selama bulan suci Ramadhan. Ramadhan seharusnya menjadi wasilah tarbiyah bagi bertambahnya kesabaran, kekhusukan, keimanan, ketaqwaan, keikhlasan, kesungguhan dan kepedulian.

Pengurangan. Bulan Ramadhan adalah bulan dimana Allah swt. berjanji akan mengurangi dan bahkan menghilangkan dosa-dosa bagi seorang muslim yang berpusa karena landasan keimanan dan ketaqwaan. Bahkan, Allah menjanjikan seorang mukmin yang berpuasa akan bersih kembali seperti seorang bayi yang tak berdoa. Karena itu selama Ramadhan tingkatkan kemauan dan kemampuan untuk mengurangi dan meninggalkan segala perbuatan maksiat dan dosa. Jika yang halal saja bisa ditinggalkan, apalagi yang haram.

Pengalian. Keistimewaan Ramadhan lainnya adalah bahwa Allah mengalikan derajat ibadah lebih tinggi dari kedudukan semula. Ibadah sunnah dikalikan oleh Allah derajatnya menjadi bernilai sebagai ibadah wajib. Ini adalah bentuk karunia Allah kepada hamba-hambanya yang taat. Oleh karena itu sudah semestinya kita mengalikan berbagai bentuk ibadah dan amal sholeh selama bulan Ramadhan ini, baik yang sunnah maupun yang wajib.

Pembagian. Ibadah puasa bulan Ramadhan berdimensi vertikal, yakni hubungan hamba dengan Allah swt. langsung. Sebab puasa hanya diketahui oleh orang bersangkutan dan Allah swt. saja. Karena itu Allah pula yang langsung akan memberikan dan membagikan pahala puasa, inilah istimewanya ibadah puasa. Karena itu sebagai rasa syukur, maka teruslah berbagai kebaikan dari tangan kita sendiri kepada saudara sesama muslim maupun seluruh manusia. Membagi kebaikan tidak hanya sebatas materi, namun juga ilmu, tenaga dan rasa.

Kelipatan. Allah telah berjanji akan melipatgandakan pahala bagi hamba-hamba-Nya yang ikhlas berpuasa dan beribadah karena Allah. saat kaum muslimin membaca Alquran di bulan suci Ramadhan. Jika kaum muslimin membaca satu juz Alquran kira-kira berjumlah 7000 huruf, kalikan satu huruf dengan 10 kebaikan dikalikan pahala 70 kewajiban maka akan menghasilkan  4.900.000 kebaikan. Jika satu kali saja Alquran dikhatamkan selama bulan Ramadhan, maka akan didapat 147 juta kebaikan. Jika tiga kali akan didapatkan 441 juta kebaikan.

Sama dengan. Jika keimanan ditambah puasa maka hasilnya sama dengan ampunan Allah atas semua dosa. Jika keikhlasan ditambah puasa maka sama dengan derajat ketaqwaan. Semoga puasa tahun ini menjadikan kita sebagai manusia bertaqwa, keluarga bertaqwa, pemimpin bertaqwa dan negara bertaqwa. Negara bertaqwa yaitu negera yang menerapkan Islam kaffah hingga mendatangkan keberkahan dari langit dan bumi serta menebarkan rahmat bagi alam semesta.

Selain pemaknaan operasi bilangan dengan keutamaan amaliah di bulan ramadhan, berikut beberapa fenomena terkait dengan bulan ramadhan yang dapat dimatematisasikan, sebgai bukti dari makna operasi bilangan tersebut.

Bulan ramadhan adalah bulan ke sembilan dari dua belas bulan yang lainnya. Artinya angka semilan adalah angka terbesar dari derat bilangan yang dikenal saat ini 0,1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9. Bilangan-bilangan tersebut untuk membentuk bilangan berikutnya terdiri dari bilangan-bilangan tersebut atau membentuk siklus dan jika sampai kepada angka sembilan maka akan kembali ke bilangan nol. Bila dikaitkan dengan bulan ramadhan dapat dimaknai bahwa bulan ramadhan adalah bulan yang memiliki derajat tertinggi diantara bulan-bulan lainnya dan disebut sebagai sayyidussuhur, setelah melewati bulan ke-9 maka akan kembali lagi pada titik 0 (nol). Artinya  setelah sebelas bulan lamanya umat islam sibuk dengan urusan duniawinya, maka bulan Ramadhan adalah bulan penggemblengan mental dan penyucian diri dari   segala salah dan dosa sehingga setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh harapannya umat islam kembali kepada kesucian (iedil fitri), kembali pada posisi 0 (nol).

Ibadah di bulan Ramadhan dibagi dalam tiga sesi yaitu pada sepertiga bulan pertama Allah menurunkan Rahmat-Nya, sepertiga kedua Allah menurunkan ampunan-Nya, dan sepertiga terahir Allah mengabulkan semua doa hamba-hamba Nya. Pada sepertiga terahir Ramadhan Allah juga menurunkan  lailatul qodar. Lailatul qodar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Secara matematis satu malam lailatul qodar setara dengan 83 tahun, 4 bulan. Perhitungan matematisnya adalah: dalam satu tahun ada 12 bulan, satu malam laelatul qodar setara dengan 1000 bulan, maka diperoleh dan 1000 : 12 = 83,3333333 mendekati 84 tahun. Jadi  nilai ibadah satu malam saja saat lailatul qodar setara nilainya dengan ibadah selama 84 tahun. Subhanallah.

Ciri khas bulan puasa adalah sholat tarawih. Ibarat sebuah kendaraan, tarawih di Indonesia itu macam-macam, ada yang 20 rakaat ada juga yagn 8 rakaat, namun setiap orang akan menentukan pilihannya masing-masing, sesuai dengan selera dan keyakinannya,yang penting tetap menjalankan sholat. Secara matematis, misalnya, orang yang  melaksankan tarawih 20 rakaat plus 3 witir. Perinciaanya, Jika setiap malam melaksanakan tarawih yang 20 rakaat, maka dalam sebulan telah melaksanakan sebanyak 600 rakaat. Jika ditambah witir 3 rakaat, maka sebulan penuh berarti melaksanakan 690 rakaat setiap malam. Belum lagi ditambah tahajud, 12 rakaat, sehingga totalnya 990 dengan perincian sebagai berikut:

Shalat tarawih             : 20 rakaat  x 30 hari  = 600 rakaat;

Witir                              : 3 rakaat x 30 hari      =   90 rakaat;

Tahajud                         : 12 rakaat  x 30 hari   = 360 rakaat; 

Jumlah rakaat dalam 30 hari                            = 990 rakaat.

Sebuah pencapain yang fantastis, yang tidak pernah dilakukan, kecuali pada bulan suci Ramadhan.

Demikian juga bagi mereka yang melaksanakan shalat tarawih 8 rakaat dengan witir 3 rakaat ditambah tahajud 12 rakaat, maka jumlah rakaatnya dalam sebulan adalah:

Shalat tarawih             : 8 rakaat  x 30 hari     = 240 rakaat

Witir                            : 3 rakaat x 30 hari      =   90 rakaat

Tahajud                       : 12 rakaat  x 30 hari   = 360 rakaat

Jumlah rakaat dalam 30 hari                           = 690 rakaat

Sekali lagi, tidak ada sholat yang dilakukan dengan jumlah rakaat melebih jumlah rakaat pada bulan suci Ramadhan.

Jika masing-masing menanbahi dengan dhuha setiap pagi dengan 4 rakaat selama sebulan maka hasilnya menjadi lebih fantastis. Wajarlah jika kemudian Rosulullah SAW mengatakan “barangsiapa yang melaksankan qiyam Ramadhan atas dasar iman dan semata-mata karena-Nya, maka Allah SWT mengampuni dosa-dosa yang lampau (HR Muslim).

Tadarus al-Quran juga dijanjikan oleh Allah pahala yang berlipatganda. Pahala yang dijanjikan Allah adalah pahala satu huruf al-quran adlah 10 pahala, sedangkana jumlah huruf di dalam Al-Quran itu mencapai  sebanyak 1.027.000 (satu juta dua puluh tujuh ribu). Maka pahala yang akan diperoleh bila satu kali khatam adalah 1.027.000×10=10.270.000 juta pahala yang diperoleh. Selannjutnya tinggal dihitunga bila dalam sebulan sampai khatam dua kali atau tiga kali.  Rosulullah SAW pernah mengatakan “siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Quran ), ia akan mendapatkan satu kebaikan yang nilainya sama dengan 10 kali ganjaran (pahala). Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR Tirmidzi).

Selepas Ramadhan seorang muslim sangat dianjurkan untuk mengerjakan puasa sunat 6 hari di bulan Syawwal, karena pahalanya sangat besar. Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa 6 hari bulan Syawwal, berarti ia telah berpuasa setahun” (H.R Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majjah). Secara matematis mengapa puasa Ramadhan satu bulan penuh setara dengan puasa 10 bulan? Karena dalam satu bulan ada 30 hari dan setiap kebaikan pahalanya dilipat gandakan sepuluh kali, jadi 30 hari x 10 = 300 hari, setara 10 bulan. Jika ditambah puasa 6 hari bulan Syawwal, maka pahalanya 6 hari x 10 =60 hari , setara dengan 2 bulan. Jadi Puasa sebulan bulan Ramadhan diikuti puasa 6 hari bulan Syawwal, pahalanya setara dengan puasa satu tahun penuh.

Demikianlah hubungan antara matematika, bulan Ramadhan dan bulan Syawwal, mungkin lebih banyak lagi daripada fenomena di atas. Semoga bermanfaat dan dapat memotivasi kaum muslimin untuk lebih meningkatkan amaliah selama bulam ramadhan ini.