Konsep Dasar Kurtilas

KONSEP DASAR KURTILAS

A. Pengertian dan Latar Belakang Penetapan Kurikulum Karateristik kurikulum 2013

Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum berbasis kompetensi adalah outcomes-based curriculum dan oleh karena itu pengembangan kurikulum diarahkan pada pencapaian kompetensi yang dirumuskan dari SKL. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum terbaru, hasil penyempurnaan kurikulum sebelumnya, Kurikulum KTSP atau Kurikulum tingkat satuan pendidikan. Perubahan mendasar adalah dikuruanginya beberapa mata pelajaran di tingkat satuan pendidikan SD dan SMP, serta dihilangkannya sistem penjurusan pada jejang atau tingkat satuan pendidikan SMA,  jadi tidak akan adalah lagi kasta terbaik dan kasta nomor 2 (pembuangan) seperti yang terjadi pada saat ini, yang katanya jurusan IPA itu favorit, anaknya pintar-pintar, sedangkan jurusan IPS dan bahasa itu nomor dua, jurusan “pembuangan” anaknya pada bandel-bandel.

Kurikulum 2013 sendiri mulai diterapkan secara bertahap dan terbatas mulai tahun pelajaran 2013 – 2014. Setiap kurikulum yang telah berlaku di Indonesia dari periode sebelum tahun 1945 hingga kurukulum tahun 2006, memiliki beberapa perbedaan sistem. Perbedaan sistem yang terjadi bisa merupakan kelebihan maupun kekurangan dari kurikulum itu sendiri. Kekurangan dan kelebihan tersebut dapat berasal dari landasan, komponen, evaluasi, prinsip, metode, maupun model pengembangan kurikulum. Untuk memperbaiki kekurangan yang ada, maka disusunlah kurikulum yang baru yang diharapkan akan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan tuntutan zaman. Oleh karena itu, kurikulum di Indonesia akan senantiasa berkembang maupun berubah sesuai yang disebutkan sebelumnya. Adanya kesenjangan dari pelaksanaan KTSP maka disusunlah kurikulum 2013 yang diharapkan dengan tersusunnya kurikulum 2013 dapat memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia. Karena kurikulum 2013 kurikulum yang sedang dalam tahapan perencanaan pemerintah, karena ini merupakan perbaikan dari struktur KTSP. Karakteristik yang paling menonjol dari kurikulum 2013 adalah mengajarnya menggunakan pendekatan pembelajaran tematik integratif, jumlah pelajarandi kurangi dari 10 menjadi 6 mata pelajaran, namun jumlah waktunya akan ditambah, sedikitnya adalah 4 jam pelajaran dalam waktu seminggu. Persamaan Struktur KTSP dan Kurikulum 2013 adalah dibuat dan dirancang oleh Pemerintah tepatnya oleh Depdiknas dan beberapa mata pelajaran masih ada yang sama seperti KTSP.

Penyempurnaan pola fikir perumusan kurikulum

KBK 2004/KTSP 2006 KURIKULUM 2013
Standar kompetensi lulusan diturunkan dari standar isi Standar isi diturunkan dari standar kompetensi lulusan melalui kompetensi inti yang bebas mata pelajaran
Standar kopetensi lulusan diturunkan dari kebutuhan Semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, ketrampilan, dan
Standar isi dirumuskan berdasarkan tujuan mata pelajaran (Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran), Yang dirincikan menjadi standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran Kompetensi diturunkan dari mata pelajaran Mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai pengetahuan
Pemisahan antara mata pelajaran pembentuk sikap, pembentuk keterampilan, dan pembentuk pengetahuan.  
Mata pelajaran lepas 1 dengan yang lain, seperti sekumpulan mata pelajaran terpisah Semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti (tiap kelas).
   

Dalam kerangka inilah perlunya pengembangan kurikulum 2013, untuk  menghadapi berbagai masalah dan tantangan masa depan yang semakin lama semakin rumit dan kompleks. Bebagai tantangan masa depan tersebut antara lain berkaitan dengan globalisasi dan pasar bebas, masalah lingkungan hidup, pesatnya kemajuan teknologi informasi, konfergensi ilmu dan teknologi, ekonomi berbasis pengetahuan kebangkitan industry kreatif dan budaya, pergeseran kekuatan ekonomi dunia, pengaruh dan imbas teknosains, mutu, inpestasi dan transformasi pada sektor pendidikan, serta materi TIMSS dan PISA yang harus dimiliki oleh peserta didik.

Untuk menghadapi tantangan tersebut kurikulum harus mampu membekali peserta didik dengan berbagai kompetensi. Kompetensi yang diperlukan dimasa depan sesuai dengan pengembangan global antara lain : 1. Kemampuan berkomunikasi 2. Kemampuan berpikir jernih dan kritis 3. Kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan 4. Kemampuan menjadi warga Negara yang bertanggung jawab 5. Kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda 6. Kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal 7. Memiliki minat luas dalam kehidupan 8. Memiliki kesiapan untuk bekerja 9. Memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat atau minatnya 10. Memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.

Terkait dengan pengembangan kurikulum 2013, terdapat sejumlah prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, yaitu: 1. Kurikulum satuan pendidikan atau jenjang pendidikan bukan merupakan daftar mata pelajaran. 2. Standar kompetensi lulusan ditetapkan untuk satu satuan pendidikan, jenjang pendidikan, dan program pendidikan. 3. Model kurikulum berbasis kompetensi ditandai oleh pengembangan kompetensi berupa sikap, pengetahuan, keterampilan berpikir, dan keterampilan psikomotorik yang dikemas dalam berbagai mata pelajaran. 4. Kurikulum didasarkan pada prinsip bahwa setiap sikap, keterampilan dan pengetahuan yang dirumuskan dalam kurikulum berbentuk Kemampuan Dasar dapat dipelajari dan dikuasai setiap peserta didik (mastery learning) sesuai dengan kaedah kurikulum berbasis kompetensi. Adapun komponen-komponen pengembangan kurikulum, yaitu: 1. Komponen tujuan 2. Komponen Isi 3. Komponen metode 4. Komponen evaluasi

B. Landasan Pengembangan Kurikulum 2013

Pengembangan kurikulum 2013 dilandasi secara filosofis, yuridis, konseptual sebagai berikut:

1. Landasan Filosofis

Landasan yang berkaitan dengan makna atau hakikat pendidikan, landasan yang berusaha menelaah masalah-masalah pokok dalam pendidikan. landasan filosofi adalah landasan yang berdasarkan filsafat sesuai dengan sifatnya maka landasan filsafat menelaah sesuatu secara radikal, menyeluruh dan konseptual yang menghasilkan konsepsi mengenai kehidupan dan dunia  a. Filosofis pancasila yang memberikan berbagai prinsip dasar dalam pembangunan pendidikan. b. Filosofi pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik, dan masyarakat.

2. Landasan Yuridis

Landasan yuridis adalah landasan hukum yang mendasari semua kegiatan pendidikan mengenai hak-hak yang penting seperti komponen struktur, kurikulum, pengelolaan, pengawasan dan ketenangan pendidikan adalah hidup.

  1. RPJMM 2010-2014 Sektor pendidikan, tentang perubahan metodologi pembelajaran dan penataan kurikulum.
  2. PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
  3. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
  4. PP No 23 tahun 2013 tentang Perubahan Standar Nasional Pendidikan
  5. Permendikbud No 54 tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan
  6. Permendikbud No 64 tahun 2013 tentang Standar Isi
  7. Permendikbud No 65 tahun 2013 tentang Standar Proses
  8. Permendikbud No 66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian
  9. Permendikbud No 67 tahun 2013 tentang Kerangka Dasar Kurikulum Kompetensi SD
  10. Permendikbud No 68 tahun 2013 tentang Kerangka Dasar Kurikulum Kompetensi SMP
  11. Permendikbud No 69 tahun 2013 tentang Kerangka Dasar Kurikulum Kompetensi SMA
  12. Permendikbud No 70 tahun 2013 tentang Kerangka Dasar Kurikulum Kompetensi SMK
  13. Permendikbud No 71 tahun 2013 tentang Buku Teks Pelajaran Layak
  14. INPRES Nomor 1 Tahun 2010, tentang percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan Nasional, Penyempurnaan kurikulum dan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing dan karakter bangsa.

3. Landasan Konseptual

  1. Relevansi pendidikan (link and match)
  2. Kurikulum berbasis kompetensi, dan karakter.
  3. Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning)
  4. Pembelajaran aktif (Student active learning)
  5. Penilaian yang valid, utuh, dan menyeluruh.

Kurikulum 2013 merupakan kurikulum terbaru, hasil penyempurnaan kurikulum sebelumnya, Kurukum KTSP atau Kurikulum tingkat satuan pendidikan. Perubahan mendasar adalah dikuruanginya beberapa mata pelajaran di tingkat satuan pendidikan SD dan SMP, serta dihilangkannya sistem penjurusan pada jejang atau tingkat satuan pendidikan SMA, jadi nanti tidak akan adalah lagi kasta terbaik dan kasta nomor 2 (pembuangan) seperti yang terjadi pada saat ini, yang katanya jurusan IPA itu favorit, anaknya pintar-pintar, sedangkan jurusan IPS dan bahasa itu nomor dua, jurusan “pembuangan” anaknya pada bandel-bandel. Kurikul 2013 sendiri akan mulai diterapkan secara bertahap mulai tahun pelajaran 2013 – 2014.

C. Prinsip-prinsip dalam Pengembangan Kurikulum 2013

 Pengembangan kurikulum adalah sebuah proses yang merencanakan, menghasilkan suatu alat yang lebih baik dengan didasarkan pada hasil penilaian terhadap kurikulum yang telah berlaku, sehingga dapat memberikan kondisi belajar mengajar yang baik. Dengan kata lain pengembangan kurikulum adalah kegiatan untuk menghasilkan kurikulum baru melalui langkah-langkah penyusunan kurikulum atas dasar hasil penilaian yang dilakukan selama periode waktu tertentu.

Pada umumnya ahli kurikulum memandang kegiatan pengembnagn kurikulum sebagai suatu proses yang kontinu, merupakan suatu siklus yang menyangkut beberapa kurikulum yaitu komponen tujuan, bahan, kegiatan dan evaluasi.

Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu lembaga pendidikan sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum yang digunakan di lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip yang digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum.

Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengetengahkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang dibagi ke dalam dua kelompok : (1) prinsip – prinsip umum : relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektivitas; (2) prinsip-prinsip khusus : prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar, prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pelajaran, dan prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian.

Sedangkan Asep Herry Hernawan dkk (2002) mengemukakan lima prinsip dalam pengembangan kurikulum, yaitu :

  1. Prinsip relevansi; secara internal bahwa kurikulum memiliki relevansi di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebutmemiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan dan potensi peserta didik (relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosilogis).
  2. Prinsip fleksibilitas; dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta didik.
  3. Prinsip kontinuitas; yakni adanya kesinambungandalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antar jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.
  4. Prinsip efisiensi; yakni mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.
  5. Prinsip efektivitas; yakni mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Terkait dengan pengembangan kurikulum 2013, terdapat sejumlah prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, yaitu:

  1. Kurikulum satuan pendidikan atau jenjang pendidikan bukan merupakan daftar mata pelajaran. Atas dasar prinsip tersebut maka kurikulum sebagai rencana adalah rancangan untuk konten pendidikan yang harus dimiliki oleh seluruh peserta didik setelah menyelesaikan pendidikannya di satu satuan atau jenjang pendidikan tertentu.  Kurikulum sebagai proses adalah totalitas pengalaman belajar peserta didik di satu satuan atau jenjang pendidikan untuk menguasai konten pendidikan yang dirancang dalam rencana. Hasil belajar adalah perilaku peserta didik secara keseluruhan dalam menerapkan perolehannya di masyarakat.
  2. Standar kompetensi lulusan ditetapkan untuk satu satuan pendidikan, jenjang pendidikan, dan program pendidikan. Sesuai dengan kebijakan Pemerintah mengenai Wajib Belajar 12 Tahun maka Standar Kompetensi Lulusan yang menjadi dasar pengembangan kurikulum adalah kemampuan yang harus dimiliki peserta didik setelah mengikuti proses pendidikan selama 12 tahun. Selain itu sesuai dengan fungsi dan tujuan jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah serta fungsi dan tujuan dari masing-masing satuan pendidikan pada setiap jenjang pendidikan maka pengembangan kurikulum didasarkan pula atas Standar Kompetensi Lulusan pendidikan dasar dan pendidikan menengah serta Standar Kompetensi satuan pendidikan.
  3. Model kurikulum berbasis kompetensi ditandai oleh pengembangan kompetensi berupa sikap, pengetahuan, keterampilan berpikir, dan keterampilan psikomotorik yang dikemas dalam berbagai mata pelajaran. Kompetensi yang termasuk pengetahuan dikemas secara khusus dalam satu mata pelajaran. Kompetensi yang termasuk sikap dan ketrampilan dikemas dalam setiap mata pelajaran dan bersifat lintas mata pelajaran dan diorganisasikan dengan memperhatikan prinsip penguatan (organisasi horizontal) dan keberlanjutan (organisasi vertikal) sehingga memenuhi prinsip akumulasi dalam pembelajaran.
  4. Kurikulum didasarkan pada prinsip bahwa setiap sikap, keterampilan dan pengetahuan yang dirumuskan dalam kurikulum berbentuk Kemampuan Dasar dapat dipelajari dan dikuasai setiap peserta didik (mastery learning) sesuai dengan kaedah kurikulum berbasis kompetensi.
  5. Kurikulum dikembangkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan perbedaan dalam kemampuan dan minat. Atas dasar prinsip perbedaan kemampuan individual peserta didik, kurikulum memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memiliki tingkat penguasaan di atas standar yang telah ditentukan (dalam sikap, keterampilan dan pengetahuan). Oleh karena itu  beragam program  dan pengalaman belajar disediakan  sesuai dengan minat dan kemampuan awal peserta didik.
  6. Kurikulum berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta    Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik berada pada posisi sentral dan aktif dalam belajar.
  7. Kurikulum harus tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan,   budaya, teknologi, dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan,  budaya,  teknologi,  dan seni berkembang secara dinamis. Oleh karena  itu    konten  kurikulum  harus selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, budaya, teknologi,  dan seni; membangun rasa ingin tahu dan kemampuan bagi peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat hasil-hasil ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
  8. Kurikulum harus relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pendidikan tidak boleh memisahkan peserta didik dari lingkungannya dan pengembangan kurikulum didasarkan kepada prinsip  relevansi pendidikan dengan kebutuhan  dan lingkungan hidup. Artinya, kurikulum memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mempelajari permasalahan  di lingkungan masyarakatnya sebagai konten kurikulum dan kesempatan untuk mengaplikasikan yang dipelajari di kelas dalam kehidupan di masyarakat.
  9. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Pemberdayaan peserta didik untuk belajar sepanjang hayat dirumuskan dalam sikap, keterampilan,  dan pengetahuan dasar yang dapat digunakan untuk mengembangkan budaya belajar.
  10. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dikembangkan melalui penentuan struktur kurikulum, Standar Kemampuan/SK dan Kemampuan Dasar/KD  serta  Kepentingan daerah  dikembangkan  untuk membangun manusia yang tidak tercabut dari akar budayanya dan mampu berkontribusi langsung kepada masyarakat di sekitarnya. Kedua kepentingan ini  saling mengisi dan memberdayakan  keragaman dan kebersatuan yang dinyatakan dalam Bhinneka Tunggal Ika untuk membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  11. Penilaian hasil belajar ditujukan untuk mengetahui dan memperbaiki pencapaian kompetensi. Instrumen penilaian hasil belajar adalah alat untuk mengetahui kekurangan yang dimiliki setiap peserta didik atau sekelompok peserta didik. Kekurangan tersebut harus segera diikuti dengan proses perbaikan terhadap kekurangan dalam aspek hasil belajar yang dimiliki seorang atau sekelompok peserta didik.

D. Komponen-komponen Kurikulum 2013

Suatu kurikulum harus memiliki kesesuaian atau relevansi. Kesesuaian ini meliputi dua hal. Pertama kesesuaian antara kurikulum dengan tuntutan, kebutuhan, kondisi, dan perkembangan masyarakat. Kedua  kesesuaian antar komponen-komponen.

Adapun komponen-komponen pengembangan kurikulum, yaitu:

1. Komponen tujuan

Komponen tujuan merupakan komponen pembentuk kurikulum yang berkaitan dengan hal-hal yang ingin dicapai atau hasil yang diharapkan dari kurikulum yang akan dijalankan. Dengan membuat tujuan yang pasti, hal tersebut akan membantu dalam proses pembuatan kurikulum yang sesuai dan juga membantu dalam pelaksanaan kurikulumnya agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai.

Tujuan pendidikan diklasifikasikan menjadi empat, yaitu:

a. Tujuan Pendidikan Nasional

Dalam perspektif pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional dapat dilihat secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

b. Tujuan Institusional

Tujuan institusional adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap lembaga pendidikan. Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan sebagai berikut:

  • Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
  • Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
  • Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

c. Tujuan Kurikuler

Tujuan kurikuler adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi atau mata pelajaran.

d. Tujuan Instruksional atau Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran yang merupakan bagian dari tujuan kurikuler, dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki oleh anak didik setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam bidang studi tertentu dalam satu kali pertemuan.

2. Komponen Isi

Isi program kurikulum adalah segala sesuatu yang diberikan kepada anak didik dalam kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan. Isi kurikulum meliputi jenis-jenis bidang studi yang diajarkan dan isi program dari masing-masing bidang studi tersebut.

3. Komponen Metode

Komponen metode atau strategi merupakan komponen yang cukup penting karena metode dan strategi yang digunakan dalam kurikulum tersebut menentukan apakah materi yang diberikan atau tujuan yang diharapkan dapat tercapai atau tidak. Dalam prakteknya, seorang guru seyogyanya dapat mengembangkan strategi pembelajaran secara variatif, menggunakan berbagai strategi yang memungkinkan siswa untuk dapat melaksanakan proses belajarnya secara aktif, kreatif dan menyenangkan, dengan efektivitas yang tinggi. Pemilihan atau pembuatan metode atau strategi dalam menjalankan kurikulum yang telah dibuat haruslah sesuai dengan materi yang akan diberikan dan tujuan yang ingin dicapai.

4. Komponen Evaluasi

Dalam pengertian terbatas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan-tujuan pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan. Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai kriteria.

Komponen evaluasi merupakan bagian dari pembentuk kurikulum yang berperan sebagai cara untuk mengukur atau melihat apakah tujuan yang telah dibuat itu tercapai atau tidak. Selain itu, dengan melakukan evaluasi, kita dapat mengetahui apabila ada kesalahan pada materi yang diberikan atau metode yang digunakan dalam menjalankan kurikulum yang telah dibuat dengan melihat hasil dari evaluasi tersebut. Dengan begitu, kita juga dapat segera memperbaiki kesalahan yang ada atau mempertahankan bahkan meningkatkan hal-hal yang sudah baik atau berhasil.

 

 

Daftar Pustaka

Syaodih, nana. 1997. Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktek. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset.

http//:Komponen Pengembangan Kurikulum 2013 pada Bahan Uji Publik Kurikulum 2013 _ Kabar UPI.htm

http//:seri-kurikulum-2013-prinsip-prinsip.html

 

 

 

 

 

 

 

Penilaian dalam Kurikulum 2013

Penilaian dalam kurikulum 2013  adalah penilaian yang meliputi dimensi afektif, kognitif dan psikomotor

Buku-Buku Penting untuk Prodi PGMI

1. Aqidah
2. Filsafat Pendidikan Islam
3. Fiqih,
4. Ushul Fiqih,
5. Pembelajaran SKI,
6. Bimbingan dan Konseling,
7. Pembelajaran IPS,
8. Qira’atul Kutub,
9. Mari Belajar Bahasa Indonesia,
10. Pembelajaran Bahasa Indonesia
11. Media Pembelajaran
12. Matematika
13. Penelitian Pendidikan
14. Konsep Dasar Penjaskes
15. Pembelajaran Penjaskes
16. Konsep Dasar PKn
17. Pembelajaran PKn
18. Statistika
19. Bekajar al-Quran al-Hadits
20. Etika dan Profesi Keguruan
21. Konsep Dasar IPS
22. Pembelajaran Mikor Teaching
23. Teknologi Infornatika dan Komunikasi
24. Pembelajaran Fiqih
25. Konsep Dasar Matermatika
26. Pembelajaran Matematika
27. Metodologi Studi Islam
28. Pemikiran Modelan dalam Islam
29. Akhlak
30. Pembelajaran Bag=hasa Arab
31. Bahasa Inggris
32. Landasan Pendidikan
33.  Pengembangan Pendidikan Kewirausahaan
34.  Ilmu Alamiah Dasar
35. Peneltian Tindakan Kelas
36. Psikolodi Pendidikan
38. Kewirausahaan dan Perencanaan Usaha

Silabus Media Pembelajaran PAI

INSTITUT AGAMA ISLAM LATIFAH MUBAROKIYAH
PONDOK PESANTREN SURYALAYA TASIKMALAYA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SILABUS
MEDIA PEMBELAJARAN PAI

A. IDENTITAS MATA KULIAH

Nama Mata Kuliah : Media Pembelajaran
Nomor Kode : PI 503
Jumlah SKS : 2 SKS
Semester : 6
Kelompok Mata Kuliah :
Program Studi/Program : Pendidikan Agama Islam (IPAI) / S1
Prasyarat : –
Dosen : TIM Dosen Media Pembelajaran PAI
B. TUJUAN MATA KULIAH

Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mampu memiliki pengetahuan tentang Hakekat Media dalam Pembelajaran, Klasifikasi Media Pembelajaran, Mendesain Media Pembelajaran, Teknik Pemilihan Media, Teknik Pembuatan Media Grafis dan Presentasi, Teknik Pembuatan Media Berbasis Komputer, Teknik Menggunakan Media Pembelajaran, Penilaian Media Pembelajaran dan Lingkungan sebagai Media Pengajaran..
C. DESKRIPSI ISI

Mata kuliah ini merupakan Mata Kuliah Program Studi yang diberikan kepada mahasiswa program studi Pendidikan Agama Islam di Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah. Dalam perkuliahan ini dibahas materi-materi mengenai Hakekat Media dalam Pembelajaran, Klasifikasi Media Pembelajaran, Mendesain Media Pembelajaran, Teknik Pemilihan Media, Teknik Pembuatan Media Grafis dan Presentasi, Teknik Pembuatan Media Berbasis Komputer, Teknik Menggunakan Media Pembelajaran, Penilaian Media Pembelajaran, dan Lingkungan sebagai Media Pengajaran.
D. PENDEKATAN PEMBELAJARAN
1. Pendekatan          : Ekspositori dan Inkuiri.
2. Metode                 : Ceramah, tanya jawab, laporan buku/teks, dan diskusi.
3. Tugas                   : Laporan buku/teks, makalah, penyajian dan diskusi
4. Media                   : Al-Quran & terjemah, Spidol, OHP, White Board (Papan Tulis), Transparan, LCD, CD/DVD, dan Internet
E. EVALUASI
Nilai Akhir (NA) mahasiswa pada mata kuliah ini didasarkan atas aspek-aspek :
1. Aktifitas dan partisipasi di kelas/N1 (Bobot 1, nilai maksimum 100)
2. Tugas (artikel, makalah, laporan bab, dll.)/N2 (bobot 1, nilai maksimum 100)
3. Penyajian dan Diskusi /N3 (Bobot 1, nilai maksimum 100)
4. Ujian Tengah Semester (UTS)/N4 (Bobot 1, nilai maksimum 100)
5. Ujian Akhir Semester (UAS)/N5 (Bobot 2, nilai maksimum 100)

Nilai Akhir (NA) diperoleh dengan mengakumulasikan nilai setiap aspek sesuai dengan nilai dan bobotnya, kemudian dibagi enam. Sehingga secara sederhana perhitungannya dapat dirumuskan sebagai berikut :

NA =  (N1.1 + N2.1 + N3.1 + N4.2)  : 6

Nilai Akhir berkisar dalam rentang angka 0 s.d. 100.
Angka-angka tersebut kemudian dikonversikan ke dalam bentuk nilai A, B, C, D, atau E, dengan ketentuan sebagai berikut.

Indeks Nilai
A 78 – 100
B 68 – 77
C 58 – 67
D 48 – 57
E 0 – 47

F. RINCIAN MATERI PERKULIAHAN TIAP PERTEMUAN

Pertemuan 1 : Pengantar Perkuliahan: cakupan, target, metode, tugas, dan evaluasi
Pengantar Media Pembelajaran PAI
Pertemuan 2 : Media Pembelajaran dan Proses Belajar Mengajar
Pertemuan 3 : Hakekat Media Pembelajaran
Pertemuan 4 : Keterbacaan Visual sebagai dasar Media Pembelajaran
Pertemuan 5 : Klasifikasi Media Pembelajaran
Pertemuan 6 : Sistematika Perencanaan Media
Pertemuan 7 : Penulisan Naskah Media
Pertemuan 8 : UTS
Pertemuan 9 : Teknik Pemilihan Media
Pertemuan 10 : Pembuatan Media Grafis
Pertemuan 11 : Pembuatan Media Presentasi
Pertemuan 12 : Teknik Pembuatan Media Berbasis Komputer
Pertemuan 13 : Teknik Penggunaan Media Pembelajaran
Pertemuan 14 : Penilaian Media Pembelajaran
Pertemuan 15 : Lingkungan sebagai Media Pengajaran
Pertemuan 16 : UAS

G. DAFTAR PUSTAKA

Arief S. Sadiman, dkk, (2002), Media Pendidikan, Jakarta: Rajawali.
Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, (2007), Media Pengajaran, Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Rudi Susilana dan Cepi Riyana, (2008), Media Pembelajaran: Hakikat, Pengembangan, Pemanfaatan dan Penilaian, Bandung: CV. Wacana Prima

Silabus

1. Silabus Psikologi Agama download disini
2. Silabus Seminar Pendidikan download disini

Kurikulum 2013

Salah satu alasan mendasar mengapa kurikulum harus berubah adalah karena kurikulum yang berlaku dianggap sudah kurang relevan atau kurang menunjang keberhasilan tujuan pendidikan yang dicanangkan atau sudah tidak relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu yang dirubah adalah struktur mata pelajaran yang disajikan di setiap jenjang pendidikan sebagai perwujudan dari kompetensi yang harus dimiliki peserta didik.

Mata pelajaran adalah unit organisasi terkecil dari Kompetensi Dasar. Untuk kurikulum SMP/MTs, organisasi Kompetensi Dasar dilakukan dengan cara mempertimbangkan kesinambungan antar kelas dan keharmonisan antar mata pelajaran yang diikat dengan Kompetensi Inti. Berdasarkan pendekatan ini maka terjadi reorganisasi Kompetensi Dasar mata pelajaran sehingga Struktur Kurikulum SMP/MTs menjadi lebih sederhana karena jumlah mata pelajaran dan jumlah materi berkurang. Substansi muatan lokal termasuk bahasa daerah diintegrasikan ke dalam mata pelajaran Seni Budaya. Substansi muatan lokal yang berkenaan dengan olahraga serta permainan daerah diintegrasikan ke dalam mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan. Sedangkan Prakarya merupakan mata pelajaran yang berdiri sendiri.

Tujuan satuan pendidikan

Penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang dinyatakan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan bertujuan membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang: a). beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; b). berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; c). sehat, mandiri, dan percaya diri; dan d). toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab.

Struktur Kurikulum

Setruktur kurikulum menggambarkan konseptualisasi konten kurikulum dalam bentuk mata pelajaran, posisi konten/mata pelajaran dalam kurikulum, dostribusi konten/mata pelajaran dalam semester atau tahun, beban belajar untuk mata pelajaran dan beban belajar per minggu untuk setiap siswa. Struktur kurikulum adalah juga merupakan aplikasi konsep pengorganisasian konten dalam sistem belajar dan pengorganisasian beban belajar dalam sistem pembelajaran. Pengorganisasian konten dalam sistem belajar yang digunakan untuk kurikulum yang akan datang adalah sistem semester sedangkan pengorganisasian beban belajar dalam sistem pembelajaran berdasarkan jam pelajaran per semester. Struktur kurikulum juga gambaran mengenai penerapan prinsip kurikulum mengenai posisi seorang siswa dalam menyelesaikan pembelajaran di suatu satuan atau jenjang pendidikan. Dalam struktur kurikulum menggambarkan ide kurikulum mengenai posisi belajar seorang siswa yaitu apakah mereka harus menyelesaikan seluruh mata pelajaran yang tercantum dalam struktur ataukah kurikulum memberi kesempatan kepada siswa untuk menentukan berbagai pilihan. Struktur Kurikulum SMP/MTs adalah sebagai berikut:

Kelompok A

1. Pendidikan Agama dan Budi Perkerti   setiap jenjang    3 jam pelajaran / minggu

2. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan setiap jenjang  3 jam pelajaran / minggu

3. Bahasa Indonesia setiap jenjang  6 jam pelajaran / minggu

4. Matematika setiap jenjang 5 jam pelajaran / minggu

5. Ilmu Pengatahuan Alam setiapjejang 5 jam pelajaran / minggu

6. Ilmu Pengetahuan Sosial  setiap jenjang 4 jam pelajaran / minggu

7. Bahasa Inggris setiap jenjang 4 jam pelajaran / minggu

Kelompok B

1. Seni Budaya  setiap jenjang 3 jam pelajaran / minggu

2. Pendidikan Olah Raga dan Kesehatan setiap jenjang 3 jam pelajaran / minggu

2. Prakarya setiap jenjang 2 jam pelajaran / minggu

Keterangan:

Mata pelajaran Seni Budaya dapat memuat Bahasa Daerah. Selain kegiatan intrakurikuler seperti yang tercantum di dalam struktur kurikulum diatas, terdapat pula kegiatan ekstrakurikuler SMP/MTs antara lain Pramuka (Wajib), Organisasi Siswa Intrasekolah, Usaha Kesehatan Sekolah, dan Palang Merah Remaja. Mata pelajaran Kelompok A adalah kelompok mata pelajaran yang kontennya dikembangkan oleh pusat. Mata pelajaran Kelompok B yang terdiri atas mata pelajaran Seni Budaya, Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan, dan Prakarya adalah kelompok mata pelajaran yang kontennya dikembangkan oleh pusat dan dilengkapi dengan konten lokal yang dikembangkan oleh pemerintah daerah. Satuan pendidikan dapat menambah jam pelajaran per minggu sesuai dengan kebutuhan peserta didik pada satuan pendidikan tersebut. Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial dikembangkan sebagai mata pelajaran integrative science dan integrative social studies, bukan sebagai pendidikan disiplin ilmu. Keduanya sebagai pendidikan berorientasi aplikatif, pengembangan kemampuan berpikir, kemampuan belajar, rasa ingin tahu, dan pengembangan sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial dan alam. Disamping itu, tujuan pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial menekankan pada pengetahuan tentang bangsanya, semangat kebangsaan, patriotisme, serta aktivitas masyarakat di bidang ekonomi dalam ruang atau space wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ilmu Pengetahuan Alam juga ditujukan untuk pengenalan lingkungan biologi dan alam sekitarnya, serta pengenalan berbagai keunggulan wilayah nusantara. Seni Budaya terdiri atas empat aspek, yakni seni rupa, seni musik, seni tari, dan seni teater. Masing-masing aspek diajarkan secara terpisah dan setiap satuan pendidikan dapat memilih aspek yang diajarkan sesuai dengan kemampuan (guru dan fasilitas) pada satuan pendidikan itu. Prakarya terdiri atas empat aspek, yakni kerajinan, rekayasa, budidaya, dan pengolahan. Masing-masing aspek diajarkan secara terpisah dan setiap satuan pendidikan menyelenggarakan pembelajaran prakarya paling sedikit dua aspek prakarya sesuai dengan kemampuan dan potensi daerah pada satuan pendidikan itu.

Beban Belajar

Beban belajar di SMP/MTs untuk kelas VII, VIII, dan IX masing-masing 38 jam per minggu. Jam belajar SMP/MTs adalah 40 menit. Dalam struktur kurikulum SMP/MTs ada penambahan jam belajar per minggu dari semula 32, 32, dan 32 menjadi 38, 38 dan 38 untuk masing-masing kelas VII, VIII, dan IX. Sedangkan lama belajar untuk setiap jam belajar di SMP/MTs tetap yaitu 40 menit. Dengan adanya tambahan jam belajar ini dan pengurangan jumlah Kompetensi Dasar, guru memiliki keleluasaan waktu untuk mengembangkan proses pembelajaran yang berorientasi siswa aktif belajar. Proses pembelajaran siswa aktif memerlukan waktu yang lebih panjang dari proses pembelajaran penyampaian informasi karena peserta didik perlu latihan untuk melakukan pengamatan, menanya, asosiasi, menyaji, dan komunikasi. Proses pembelajaran yang dikembangkan guru menghendaki kesabaran dalam menunggu respon peserta didik karena mereka belum terbiasa.Selain itu, bertambahnya jam belajar memungkinkan guru melakukan penilaian proses dan hasil belajar.

Pedoman UAMBN 2010/2011

UAMBN tahun sekarang 2010/2011 lebih awal dari UN, karena hasil UAMBN diikutsertakan dalam pelulusan peserta didik. Lebih lengkapnya dapat diunduh disini

Previous Older Entries